- Mudah tergoda belanja impulsif
- Tanpa sadar menambah “tumpukan cicilan”
- Merasa semua barang “terjangkau” karena bisa dicicil
Masalah makin pelik ketika satu orang memiliki lebih dari 3 aplikasi paylater—mulai dari e-commerce, ride hailing, hingga aplikasi tiket.
Tagihannya memang kecil-kecil, tapi totalnya bisa bikin dompet kebakaran.
Baca Juga: Sandra Dewi Hentikan Gugatan Aset dalam KasusKkorupsi PT Timah, Tunduk Putusan Hukum.
Risiko Paylater yang Sering Dianggap Sepele
Saat promosi, risiko tersembunyi paylater nyaris tak terlihat. Namun realitanya:
- Bunga dan biaya layanan menumpuk
- Denda telat bayar bisa membengkak
- Skor kredit buruk jika telat bayar, berdampak pada masa depan finansial
- Data pribadi berisiko saat penagihan
- Stres mental karena dikejar tagihan tiap tanggal muda
Bayangkan: hidup kerja keras, tapi setiap gajian hanya lewat untuk bayar cicilan. Ini bukan hidup, ini survival mode finansial.
Paylater: Musuh atau Alat Finansial?
Sebenarnya paylater tidak sepenuhnya buruk. Sama seperti pisau—semua tergantung siapa yang memegang.
Paylater bisa berguna bila digunakan secara bijak untuk kebutuhan produktif, misalnya:
- Modal usaha kecil
- Kursus online untuk upgrade skill
- Pembelian perangkat kerja seperti laptop atau printer
Yang berbahaya adalah penggunaan paylater untuk gengsi sosial.
Cara Aman Menggunakan Paylater
Kalau tetap ingin pakai paylater, gunakan prinsip ini:
1. Batasi maksimal 30% dari penghasilan untuk cicilan
2. Pakai untuk kebutuhan, bukan keinginan
3. Jangan punya lebih dari 1-2 akun paylater