"Dulu pabrik Volkswagen mempekerjakan 5.000 orang. Sekarang hanya butuh 30 orang karena sisanya digantikan robot," ujarnya.
Ia menyadari tantangan ini tidak bisa dianggap sepele. Meski tingkat pengangguran terbuka Indonesia telah turun menjadi 4,67 persen, Prabowo mengingatkan bahwa bangsa ini tidak boleh cepat puas.
Apalagi, tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan global.
Baca Juga: Jejak Panjang Utang Whoosh: Ambisi Besar, Arah Politik, dan Tanda Tanya yang Belum Terjawab
Fokus: Latih Tenaga Kerja, Perbanyak Industri Padat Karya
Selama setahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, perbaikan tingkat pengangguran memang sudah terlihat. Namun, menurut Prabowo, pekerjaan rumah masih panjang.
Ia menyampaikan pemerintah akan mengakselerasi dua hal penting untuk menekan pengangguran:
- Pelatihan kerja berskala nasional demi meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal.
- Mendorong investasi yang membuka lapangan kerja besar, terutama di sektor padat karya.
“Bagi masyarakat yang butuh pekerjaan hari ini juga, kita harus hadir. Mereka tidak bisa menunggu teori,” tegasnya.
Mencontoh Jerman, tapi Tetap Indonesia
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut Indonesia perlu belajar dari negara maju—bukan hanya meniru, tapi beradaptasi.
Menurutnya, teknologi seperti robotik dan kecerdasan buatan memang penting, namun manusia tetap harus menjadi pusat pembangunan.
“Teknologi mempercepat riset dan produksi, tapi tidak boleh mematikan kreativitas manusia,” ucapnya.
Ia menargetkan angka pengangguran Indonesia bisa ditekan hingga di bawah 4 persen sebelum masa pemerintahannya berakhir.
Janji Menkeu: Lapangan Kerja Akan Bergerak