nasional

Jejak Panjang Utang Whoosh: Ambisi Besar, Arah Politik, dan Tanda Tanya yang Belum Terjawab

Senin, 20 Oktober 2025 | 11:30 WIB
Menyoroti kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara. (Instagram.com/@keretacepat_id)

Meski pemerintah berdalih negara tidak ikut menjamin utang, kenyataannya BUMN tetap harus menanggung risiko keuangan, dan pada akhirnya bebannya kembali ke negara.

Harun menyindir, “Memilih B2B itu ngawur. Ini baru seperlima perjalanan. Mimpi awalnya kereta cepat sampai Surabaya.”

Biaya Pembebasan Lahan Membengkak

Bukan hanya bunga pinjaman yang menjadi beban berat.

Pembebasan lahan juga memakan biaya besar.

Berbeda dengan proyek jalan tol yang tanahnya dibiayai negara, pada proyek Whoosh biaya lahan ditanggung perusahaan pelaksana.

“Nilainya bisa sampai Rp15 triliun. Ini harusnya bisa diatur ulang dari awal,” kata Harun.

Siapa yang Disubsidi?

Pemerintah rutin memberikan subsidi transportasi publik seperti MRT, LRT, dan BRT karena melayani masyarakat luas.

Nilainya lebih dari Rp10 triliun per tahun.

Namun berbeda dengan Whoosh, moda ini lebih banyak dinikmati masyarakat menengah ke atas sehingga menimbulkan perdebatan baru: apakah negara harus menanggung beban proyek yang tidak pro rakyat?

Beban Dipikul Generasi Mendatang?

Polemik finansial proyek Whoosh kini berubah menjadi pertanyaan moral dalam kebijakan publik.

“Tidak adil jika anak cucu kita harus menanggung beban utang ini hanya karena dulu tidak ada yang berani bicara,” tegas Akbar Faizal.

Polemik Whoosh memperlihatkan satu hal penting: utang hanyalah akibat.

Halaman:

Tags

Terkini