nasional

Jejak Panjang Utang Whoosh: Ambisi Besar, Arah Politik, dan Tanda Tanya yang Belum Terjawab

Senin, 20 Oktober 2025 | 11:30 WIB
Menyoroti kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara. (Instagram.com/@keretacepat_id)

Namun keputusan politik berjalan berbeda arah. Proyek ini kemudian dialihkan melalui Kementerian BUMN, dan jalan pun terbuka bagi investor China untuk masuk.

Baca Juga: Bara Panas Proyek Whoosh: Mahfud MD Tantang KPK Usut Dugaan Mark Up Tanpa Menunggu Laporan!

Kenapa Tawaran Jepang Ditolak?

Awalnya, Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan, menolak proyek kereta cepat.

Menurutnya, proyek ini bukan prioritas nasional karena masih banyak kebutuhan infrastruktur yang lebih mendesak.

Tetapi penolakan itu justru mempercepat lahirnya skenario baru.

“Presiden meminta Rini Soemarno untuk meneruskan ke China karena Jonan tidak mau,” jelas Agus Pambagio.

Keputusan ini mengubah seluruh narasi proyek. Dari awalnya berbentuk kerja sama antar negara (G2G), berubah menjadi kerja sama bisnis murni (B2B) antara konsorsium BUMN Indonesia dan investor China.

Namun peralihan skema ini meninggalkan masalah baru yang hingga kini tidak selesai.

Baca Juga: Peringatan Keras dari OJK: Uang Rp7 Triliun Raib Dibawa Penipu Digital, Indonesia Darurat Scam!

Skema B2B: Jalan Pintas yang Berujung Masalah?

Pakar transportasi dan anggota tim asistensi awal proyek Whoosh, Harun Ar Rasyid, turut angkat bicara.

Ia membantah tuduhan bahwa dirinya yang mengubah bunga pinjaman.

“Itu salah. Begitu China yang menang, ya mereka bikin kesepakatan sendiri,” tegasnya.

Menurut Harun, keputusan menggunakan skema B2B justru menjadi akar kerumitan finansial proyek ini.

Halaman:

Tags

Terkini