nasional

Mengapa Menkeu Purbaya Tolak Utang Kereta Cepat Woosh Dibayar APBN? Cek Besarannya

Minggu, 19 Oktober 2025 | 19:23 WIB
Mengapa Menkeu Purbaya Tolak Utang Kereta Cepat Woosh Dibayar APBN? Cek Besarannya. (KCJB)

Keputusan ini juga dinilai sebagai upaya menjaga kredibilitas fiskal pemerintah agar tidak terlalu sering menanggung beban utang BUMN yang tidak sehat.

Baca Juga: Purbaya Siapkan Langkah Besar Berantas Mafia Penyelundupan, Apa Saja?

Total Utang Kereta Cepat Woosh Jakarta–Bandung

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total utang proyek kereta cepat Jakarta–Bandung kini mencapai 7,3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp116 triliun jika dikonversi dengan kurs saat ini.

Utang tersebut bersumber dari berbagai pinjaman luar negeri, dengan China Development Bank (CDB) sebagai salah satu pemberi pinjaman utama.

Selain itu, terdapat dana patungan dari konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), yang merupakan kerja sama antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan China Railway International Co. Ltd.

Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk pembelian rangkaian kereta cepat Whoosh, tapi juga pembangunan infrastruktur seperti sistem sinyal, rel, jembatan, dan fasilitas pendukung di sepanjang jalur Jakarta–Bandung.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,67 Persen di Akhir 2025, Bahas Peluang Penurunan PPN Tahun 2026

Skema Pembayaran Utang

Pihak BPI Danantara sendiri telah menyiapkan beberapa opsi untuk menyelesaikan beban utang tersebut. Dony Oskaria, selaku Chief Operating Officer (COO) Danantara, menjelaskan dua alternatif yang sedang dikaji.

Kedua alternative itu adalah menambah suntikan modal (equity injection) dari pihak Danantara, dan mengalihkan kepemilikan infrastruktur ke pemerintah, seperti skema pada industri kereta api konvensional.

“Apakah kemudian kita tambahkan equity yang pertama, atau kemudian memang ini kita serahkan infrastrukturnya sebagaimana industri kereta api yang lain, infrastrukturnya itu milik pemerintah. Nah ini dua opsi ini yang kita coba tawarkan,” ujar Dony.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, yang juga CEO Danantara, mengungkapkan pihaknya tengah melakukan negosiasi restrukturisasi utang bersama pemerintah China.

“Jadi kita mau melakukan reformasi secara keseluruhan. Setelah restrukturisasi, ke depannya tidak akan ada lagi masalah seperti ini, termasuk risiko gagal bayar,” jelas Rosa).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sebut Belum Ada Pembahasan Soal Rencana Pembangunan Ulang Ponpes Al Khoziny Gunakan APBN

Halaman:

Tags

Terkini