Sebagian akademisi juga melihat penggunaan ACAB sebagai bahasa perlawanan yang muncul ketika masyarakat merasa tidak punya ruang dialog dan suara mereka selalu ditekan.
Dengan kata lain, ACAB dan 1312 bukan hanya soal kata-kata, makian, ataupun kritikan, tapi juga cerminan dari rasa frustasi sosial yang sudah lama terpendam.***