Pulau ini merupakan cleaning station alami bagi ikan pari manta, bayi manta, dan paus sperma, habitat penting dalam ekosistem laut Raja Ampat.
“Pulau-pulau seperti Manyefun, Waisilip, Bianci, Mutus, dan Nyos Manggara memang masih alami.
Tapi, siapa yang bisa menjamin kondisi atau ekosistem itu tetap terjaga kalau penambangan nikel sudah beroperasi?” kata Patrick.
Baca Juga: Update Longsor Tambang Gunung Kuda, Korban Tewas 21 Orang, Pencarian Masih Berlanjut
Status UNESCO Global Geopark Terancam?
Raja Ampat telah diakui dunia sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark dan merupakan konversi air dalam Kawasan Konservasi Perairan Nasional.
Wilayah ini menyimpan 70 persen spesies karang dunia, menjadikannya kawasan dengan keanekaragaman hayati laut paling kaya di planet ini.
Namun, keberadaan tambang di dekat area konservasi ini dinilai dapat mengancam status geopark serta merusak citra pariwisata berkelanjutan yang selama ini dibangun dengan kerja keras oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Desakan: Segera Evaluasi Izin Tambang di Kawasan Suaka Alam
Masyarakat, pemerhati lingkungan, dan tokoh lokal kini mendesak Kementerian ESDM untuk segera meninjau ulang izin tambang yang telah dikeluarkan untuk PT Mulia Raymond Perkasa dan PT Anugerah Pertiwi Indotama.
Langkah ini dianggap penting untuk menjaga ekosistem dan kelestarian lingkungan Raja Ampat, sekaligus menjamin masa depan ekonomi warga yang bergantung pada sektor pariwisata.***