Situs Budaya Dunia Kini Semakin Inklusif
Hasan juga menambahkan bahwa sejumlah situs bersejarah dunia saat ini telah mulai menerapkan fasilitas aksesibilitas untuk pengunjung yang memiliki keterbatasan fisik, terutama lansia dan difabel.
“Di banyak negara, tempat-tempat bersejarah sudah makin inklusif. Jadi ini bisa menjadi pertimbangan juga bagi kita,” jelasnya.
Baca Juga: Selalu Ada Destinasi Baru, Kunjungan Wisatawan di Yogya Terus Meningkat
Keputusan Akhir Masih Menunggu Rapat Kementerian
Meski banyak dukungan, Hasan menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai permanen atau tidaknya stairlift masih harus menunggu hasil pembahasan dari pihak terkait.
“Nantinya keputusan akan diambil dalam rapat bersama Kementerian Kebudayaan, dewan cagar budaya, dan pihak pengelola Borobudur,” tambahnya.
Langkah Menuju Akses yang Lebih Merata
Hasan menilai usulan ini merupakan langkah baik menuju akses yang lebih merata di tempat-tempat bersejarah.
Baca Juga: Momen Bersejarah: Presiden Prabowo Dampingi Emmanuel Macron Kunjungi Candi Borobudur
Menurutnya, penting bagi cagar budaya seperti Borobudur untuk menjadi ruang yang ramah bagi semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
“Kalau ini demi memudahkan akses bagi lansia atau penyandang disabilitas, kenapa tidak dipertimbangkan? Ini usulan yang patut dibahas lebih lanjut,” tutup Hasan.
Baca Juga: KPK Mendalami Dugaan Korupsi Proses Izin Tenaga Kerja Asing di Kemenaker, Imigrasi Jadi Sorotan
Borobudur Menuju Fasilitas yang Lebih Inklusif
Usulan untuk menjadikan stairlift sebagai fasilitas permanen di Candi Borobudur menunjukkan adanya semangat inklusivitas dalam pelestarian situs budaya.