TITIKTEMU.CO - Di tengah semangat menyambut masa panen, seorang petani asal Lampung Selatan justru menghadapi kenyataan pahit.
Dalam sebuah video yang diunggah di akun Facebook Edi Pertanian Milenial, ia mengungkapkan kekecewaannya karena harga jual padi tak sesuai harapan.
“Katanya harga padi standar Rp6.500 per kilogram, tapi kenyataannya di sini malah turun drastis,” keluhnya dengan wajah lesu dan nada penuh kecewa.
Unggahan video ini langsung mendapat respons dari warganet, terutama kalangan petani lain yang merasakan hal serupa. Banyak yang mempertanyakan ke mana janji harga standar tersebut dan siapa yang sebenarnya mengatur mekanisme harga di lapangan.
Padi Berkualitas Tinggi, Tapi Dihargai Murah
Yang membuat petani ini semakin kecewa, padi yang ia tanam bukan sembarang varietas. Dalam videonya, ia menjelaskan bahwa padi yang dipanennya termasuk jenis unggulan, yaitu varietas A1.
“Ini padi A1, kualitasnya bagus. Tapi kok harganya nggak sesuai janji? Gimana ini, Pak Prabowo?” ujarnya sambil menunjukkan hasil panennya kepada kamera.
Varietas A1 dikenal dengan hasil produksi tinggi, daya tahan terhadap hama, dan kualitas beras yang baik. Secara logika, produk seperti ini seharusnya mendapat harga yang lebih layak di pasaran.
Petani Merugi di Tengah Janji Pemerintah
Beberapa bulan terakhir, pemerintah melalui berbagai saluran telah menyuarakan komitmennya untuk menstabilkan harga gabah di kisaran Rp6.000 - Rp6.500 per kilogram.
Tujuannya tentu mulia: memastikan petani tidak merugi dan tetap semangat menanam.
Namun, kenyataan di lapangan rupanya tidak seindah pernyataan.