"Fenomena demokrasi elit ini mesti jadi pelajaran penting bagi siapapun yang tak berpartai, tapi punya syahwat kekuasaan," kata Adi dalam unggahan Instagram pribadinya @adiprayitno.official, pada 10 Agustus 2024 lalu.
Adi mengungkap, politik di Indonesia itu sederhana dan tidak perlu 'dibawa perasaan' saat para elit politik tampil di hadapan publik.
Baca Juga: Kematian Istri Muda Jadi Pembuka FTV Jeritan Hati Mulai Hari Ini
"Jangan pernah baper, jangan di bawa ke hati. Hari ini lawan besok bisa kawan. Prinsip utama politik mendapat keuntungan pribadi dan kelompok. Ya, mendapat kekuasaan dengan cara apapun" ungkapnya.
Adi juga menilai, praktik politik yang terjadi kerap brutal dan membabi buta. Menurutnya, fenomena itu semua demi keuntungan politik belaka.
"Berbohong dan ingkar janji perkara biasa. Bahkan, ada yang rela menghabisi partainya sendiri. Semua demi keuntungan politik," tandasnya.
Baca Juga: Ada Festival Anggrek Vanda Tricolor Di Yogya, Bagaimana Anggrek Supaya Komersil
Hal senada juga disampaikan oleh Presiden RI Jokowi yang menyoroti Pilkada dan Pilpres yang kerap dilakukan dengan berbagai cara untuk menarik perhatian publik.
Jokowi menilai, hal itu terkadang membuat publik merasa tersinggung karena perbedaan pilihan politik.
"Meski sudah ada Pemilu Presiden 2014 empat tahun lalu, rasa tidak suka dan benci akibat perbedaan pilihan politik masih terasa hingga sekarang," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 24 Oktober 2018 lalu.
Baca Juga: Pawai Obor Peparnas Solo 2024 Dimulai, Apinya Diambil Dari Api Abadi Mrapen
Fenomena ‘konflik’ yang melibatkan Kaesang maupun Bobby di media sosial juga erat kaitannya dengan kemunculan oligarki modern di Indonesia.
Kemunculan Oligarki Modern
Aristoteles menjelaskan, oligarki sebagai kekuasaan yang dipegang oleh segelintir orang dan menganggapnya sebagai wujud dari pemerintahan yang buruk.
Munculnya oligarki modern di Indonesia, terjadi selama perluasan kapitalisme pasar di bawah pemerintah otoriter Soeharto pada periode 1966-1998.