Usai Dikritik Publik, Menteri PPPA Minta Maaf soal Usul Gerbong Wanita KRL Dipindah ke Tengah

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 30 April 2026 | 21:11 WIB
Foto ilustrasi Menteri PPPA minta maaf usai usul gerbong wanita KRL dipindah (Instagram @kemenpppa)
Foto ilustrasi Menteri PPPA minta maaf usai usul gerbong wanita KRL dipindah (Instagram @kemenpppa)

TITIKTEMU.CO - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka setelah pernyataannya mengenai usulan pemindahan gerbong khusus wanita di KRL ke posisi tengah rangkaian menuai sorotan luas, kritik tajam, dan dianggap tidak sensitif di tengah suasana duka akibat kecelakaan kereta maut di Stasiun Bekasi Timur.

Permintaan maaf tersebut disampaikan setelah gelombang respons publik bermunculan di media sosial maupun ruang diskusi publik, di mana banyak pihak menilai pernyataan itu tidak relevan dengan akar persoalan keselamatan transportasi dan justru berpotensi memunculkan polemik baru yang tidak perlu.

Arifah mengakui bahwa ucapan yang disampaikannya pascakecelakaan tersebut kurang tepat dan tidak mempertimbangkan situasi emosional masyarakat, khususnya keluarga korban yang masih berduka akibat insiden tragis tersebut.

Ia juga menyampaikan penyesalan kepada masyarakat luas, terutama korban luka maupun keluarga korban meninggal dunia yang merasa tidak nyaman atau tersinggung atas pernyataan tersebut.

Baca Juga: Polisi Periksa Sopir Taksi dan Masinis Usai Kecelakaan KRL–KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

Sorotan Publik terhadap Isu Keselamatan KRL

Kontroversi bermula ketika Arifah mengusulkan agar gerbong perempuan ditempatkan di bagian tengah rangkaian kereta setelah insiden tabrakan maut di Bekasi Timur, dengan alasan keselamatan, namun publik justru mempertanyakan mengapa solusi yang muncul berfokus pada posisi gerbong dan bukan pada sistem keamanan transportasi secara menyeluruh.

Banyak pengamat transportasi dan masyarakat menilai keselamatan penumpang tidak ditentukan oleh jenis kelamin atau lokasi gerbong semata, melainkan oleh kualitas infrastruktur rel, sistem sinyal, standar operasional, pengawasan perjalanan, hingga mitigasi risiko kecelakaan yang harus diperkuat secara serius.

Kritik juga datang dari sejumlah pemerhati kebijakan publik yang menilai narasi pemisahan ruang berdasarkan gender seharusnya tidak menjadi jawaban utama ketika masyarakat sedang menunggu evaluasi teknis dan langkah konkret pemerintah pascakecelakaan.

Perdebatan ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang bagaimana pejabat publik seharusnya menyampaikan empati dan solusi berbasis substansi saat terjadi musibah nasional.

Baca Juga: 8 Jam Menegangkan di Stasiun Bekasi Timur: Lokomotif Penabrak KRL Akhirnya Berhasil Dipisahkan

Tegaskan Keselamatan Semua Penumpang Prioritas

Menanggapi polemik yang berkembang, Arifah menegaskan bahwa tidak pernah ada niat untuk membandingkan keselamatan perempuan dan laki-laki, karena seluruh warga negara yang menggunakan transportasi umum memiliki hak perlindungan yang sama tanpa pengecualian.

Ia menyebut keselamatan penumpang, baik perempuan maupun laki-laki, harus menjadi prioritas utama dan menjadi titik temu semua pihak dalam menyikapi tragedi tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Instagram @kemenpppa

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X