El Nino vs Musim Kemarau: Kenapa Cuaca Bisa Lebih Panas? BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 Terjadi Agustus

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 29 April 2026 | 20:25 WIB
Ilustrasi BMKG jelaskan perbedaan El Nino dan musim kemarau (Pinterest @erqyz)
Ilustrasi BMKG jelaskan perbedaan El Nino dan musim kemarau (Pinterest @erqyz)

Untuk tahun 2026, BMKG memproyeksikan kondisi sistem iklim global El Niño–Southern Oscillation atau ENSO yang saat ini masih berada dalam fase netral berpotensi berkembang menjadi El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat pada periode Mei hingga Juli 2026.

Baca Juga: Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE AUR 2026: Pilihan Cerdas untuk Kuliah Jalur Mandiri

Perkembangan ini menjadi sinyal awal bahwa cuaca kering kemungkinan akan semakin terasa di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Selain ENSO, fenomena lain yang juga diprediksi muncul adalah Indian Ocean Dipole positif. Fenomena ini diperkirakan mulai terbentuk sekitar Mei 2026 dan bisa bertahan hingga paruh kedua tahun ini.

IOD positif dapat mengurangi pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia. Akibatnya, pembentukan awan hujan menjadi lebih sulit sehingga kondisi kering dapat berlangsung lebih lama.

Kombinasi antara El Nino dan IOD positif inilah yang diperkirakan akan memperkuat musim kemarau tahun ini. Jika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, dampaknya bisa membuat musim kering terasa lebih panjang dibandingkan biasanya.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 kemungkinan akan terjadi sekitar Agustus 2026. Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan yang sangat rendah.

Sementara itu, intensitas El Nino diprediksi mulai menguat pada rentang Juli hingga September 2026. Pada fase ini, suhu udara berpotensi terasa lebih panas dan risiko kekeringan meningkat di berbagai daerah.

Situasi tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan musim kering yang lebih ekstrem. Menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan sejak sekarang.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: BMKG

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X