“Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Tidak perlu dibawa pada perpecahan. Jadikan perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak,” tegasnya.
Dia juga menyinggung konsep wihdatul mathali’ dan ikhtilaf al-mathali’, yakni perbedaan pandangan tentang apakah penentuan awal bulan berlaku global atau berdasarkan lokasi masing-masing wilayah.
Ada yang meyakini satu kalender global untuk seluruh dunia, sehingga jika hilal terlihat di satu negara, maka negara lain dianggap sama. Namun ada pula yang berpegang pada prinsip rukyat lokal.
Baca Juga: Kapan Puasa Ramadan 2026 Dimulai? Ini Jadwal Buka Puasa dan Imsakiyah Resmi Kemenag
Momentum Ramadhan Penuh Kedamaian
Di tengah potensi perbedaan awal Ramadhan 2026, MUI mengingatkan bahwa esensi ibadah puasa adalah meningkatkan ketakwaan dan mempererat persaudaraan.
Perbedaan metode tidak boleh mengurangi kekhusyukan maupun semangat kebersamaan umat Islam.
Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sangat dinantikan setiap tahun. Karena itu, menjaga persatuan dan saling menghormati pilihan masing-masing menjadi kunci agar suasana tetap kondusif.
MUI berharap masyarakat Indonesia semakin bijak dalam menyikapi isu perbedaan awal puasa. Perbedaan bukan menjadi sumber konflik, melainkan ruang pembelajaran dalam khazanah keilmuan Islam.
Apapun tanggal yang ditetapkan, semangat menyambut Ramadhan 2026 seharusnya tetap sama: memperbanyak ibadah, menjaga persaudaraan, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.***
Artikel Terkait
Kumpulan Link Twibbon Ramadhan 2026 Siap Pakai, Download Gratis!
Link Twibbon Imlek 2026 Gratis, Rayakan Tahun Baru Kuda Api dengan Bingkai Foto Menarik
Kumpulan Kata Kata Minta Maaf Sebelum Ramadhan 2026, Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris
Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026, Cek Waktu dan Cara Menontonnya
Begini Prediksi Pengamatan Hilal Ramadan 2026 Versi BMKG, 17 atau 18 Februari?