Ia menjelaskan bahwa kerusakan akibat tsunami kala itu lebih terfokus di wilayah pesisir, sementara daerah lain masih bisa menjadi tumpuan akses bantuan.
“Waktu tsunami, yang rusak parah itu di pesisir Banda Aceh,” tambahnya.
Baca Juga: Akses Jalan Rusak Pascabencana, Warga Bener Meriah Terpaksa Jalan Kaki Puluhan Kilometer
Akses Terputus, Kondisi Disebut Lebih Parah
Sebaliknya, pada banjir bandang Aceh Tamiang kali ini, sang ibu menyayangkan banyaknya akses jalan yang masih terputus, serta minimnya jaringan komunikasi yang membuat warga semakin terisolasi.
“Sekarang semuanya seperti mati total. Kami merasa seolah seluruh Aceh mengalami hal yang sama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keterputusan akses membuat bantuan sulit masuk ke wilayah terdampak.
“Semua jalur terputus, jaringan bantuan pun tidak ada,” katanya.
Hingga kini, para korban banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang masih menanti uluran bantuan serta percepatan penanganan bencana, agar kondisi kehidupan mereka bisa segera pulih dan tidak berlarut-larut dalam keterbatasan.***
Artikel Terkait
Viral Video Kepala BGN Main Golf Saat Bencana Sumatera, Dadan Hindayana Beri Klarifikasi
Akses Jalan Rusak Pascabencana, Warga Bener Meriah Terpaksa Jalan Kaki Puluhan Kilometer
BPK Soroti Aset Proyek PLN Rp1,97 Triliun Menganggur, Dipicu Perubahan RUPTL dan Proyek Mangkrak
Bendungan Ciawi–Sukamahi Terbukti Redam Banjir Jakarta hingga 27 Persen
Sekolah Rakyat di Bandung Barat Jadi Harapan Baru Anak Nyaris Putus Sekolah