Mikroplastik sangat ringan dan mudah terangkat ke udara. Prosesnya bisa terjadi setiap kali kita mencuci pakaian sintetis, berkendara, atau membakar sampah plastik secara terbuka.
Partikel-partikel halus itu kemudian terbawa angin, bergabung dalam debu atmosfer, lalu membentuk aerosol mikroplastik.
Dari hasil riset yang diterbitkan di Nature Geoscience (2023), mikroplastik ternyata bisa berperan sebagai inti kondensasi awan (cloud condensation nuclei), semacam bibit pembentuk awan.
Dengan begitu, saat awan terbentuk dan turun sebagai hujan, partikel plastik ikut terbawa bersama butiran air.
Muhamad Reza mangungkapkan aktivitas manusia seperti pembakaran sampah terbuka dan limbah pakaian sintetis mempercepat proses pelepasan mikroplastik ke udara.
“Kalau pembakaran masih terus dilakukan setiap hari, mikroplastik itu akan lebih cepat terbang ke udara,” ujarnya.
Baca Juga: Waspada Cuaca Ekstrem: 8 Provinsi Terancam Hujan Lebat Akibat Bibit Siklon Tropis 98W
Dampak Hujan Mikroplastik
Mencemari Tanah dan Pertanian
Setelah hujan turun, partikel mikroplastik menumpuk di tanah. Penelitian de Souza Machado et al. (2018) mengungkap mikroplastik dapat mengubah struktur tanah.
Partikel ini juga bisa mengurangi daya serap air, dan mengganggu aktivitas mikroorganisme penting. Dalam jangka panjang, ini bisa menurunkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian.
Masuk ke Ekosistem Air Tawar dan Laut
Air hujan menjadi jalur utama mikroplastik menuju sungai, danau, dan laut. Partikel kecil ini dimakan plankton atau ikan kecil, lalu naik ke rantai makanan, termasuk ke meja makan manusia.
Mempengaruhi Udara dan Cuaca
Mikroplastik di atmosfer bisa memengaruhi pembentukan awan dan refleksi cahaya matahari. Para ilmuwan khawatir partikel ini bisa memengaruhi pola cuaca dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Artikel Terkait
Indonesia Hujan Salju 2026? Cek Fakta Ilmiah dan Klarifikasi BMKG
Cuaca Ekstrem Masih Mengintai, BMKG Ingatkan Musim Kemarau Belum Dominan
Suhu Dingin Masih Melanda Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara? BMKG Ungkap 3 Penyebab Fenomena yang Terjadi pada Bulan Juli 2025
Musim Hujan 2025/2026: Datang Lebih Cepat, Bertahan Lebih Lama, dan Bawa Cerita Baru untuk Indonesia
Indonesia Serasa Panggang Raksasa! BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem dan Jam Berbahaya Sinar Matahari
WWF-Indonesia dan KLH Dorong Kolaborasi Multipihak Atasi Krisis Plastik, Iklim, dan Keanekaragaman Hayati