Ia menambahkan, produk seperti roti akan diproduksi langsung oleh UMKM lokal, termasuk ibu-ibu murid sekolah penerima MBG. Dengan begitu, selain meningkatkan gizi anak-anak, program ini juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat.
Baca Juga: Firnando Hadityo Dorong BUMN Tambang Jalankan Reklamasi Nyata dan Berkelanjutan
Kritik Ahli Gizi: Spaghetti dan Burger Bukan Makanan Lokal
Ahli gizi Tan Shot Yen sebelumnya juga menyoroti menu MBG yang berisi burger, spaghetti, hingga bakmi siap saji. Ia menilai menu berbasis gandum tersebut tidak relevan, mengingat bahan bakunya tidak diproduksi di Indonesia.
Menanggapi hal ini, Nanik menjelaskan menu seperti burger atau spaghetti hanya diberikan sesekali, sesuai permintaan siswa agar mereka tidak bosan.
“Anak-anak boleh request satu kali dalam seminggu untuk menu khusus. Misalnya burger atau makanan yang biasanya tidak mudah mereka dapatkan. Jadi tidak setiap hari,” jelasnya.
Polemic penggunaan ultra processed food dalam program MBG menegaskan pentingnya konsistensi kebijakan. Di satu sisi, MBG diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi anak bangsa, namun di sisi lain, menu yang disajikan harus benar-benar sehat sekaligus mendukung perekonomian lokal.***
Artikel Terkait
Viral Aksi Arogan Rombongan Yamaha Nmax di Ciwidey, Polisi Tegaskan Pentingnya Etika Berkendara
Proposal 20 Poin Perdamaian Gaza dari Trump dan Netanyahu: Harapan Baru atau Sekadar Janji?
Firnando Hadityo Dorong BUMN Tambang Jalankan Reklamasi Nyata dan Berkelanjutan
Mahfud MD Soroti Program Makan Bergizi Gratis: Cucu Jadi Korban Keracunan, BGN Catat 6.457 Kasus Nasional
Gempa Dahsyat 6,9 SR Guncang Filipina: 69 Tewas, Ratusan Luka, Bangunan Bersejarah Runtuh