TITIKTEMU.CO - Di saat dunia semakin gencar mendorong transisi energi bersih, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih sulit melepaskan ketergantungannya pada bisnis batu bara. Perusahaan pelat merah ini memang menargetkan net zero emission 2060 dan mengklaim berhasil menekan emisi karbon sebesar 305 ribu ton CO₂e pada 2024 melalui program efisiensi energi serta reklamasi lahan bekas tambang.
Tak hanya itu, PTBA juga menyiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Ombilin dan Tanjung Enim dengan kapasitas 100–200 MWp sebagai langkah menuju energi terbarukan.
Namun, di balik klaim hijau tersebut, sederet catatan menunjukkan masih adanya kontradiksi besar dalam strategi bisnis perusahaan.
Baca Juga: 10,7 Juta Warga Indonesia Butuh Kerja Setiap Tahun, Kemenaker Ingatkan Tantangan Besar Pemerintah
Think tank energi bersih Ember dalam laporannya tahun 2024 menyebutkan bahwa emisi metana dari tambang batu bara Indonesia bisa mencapai delapan kali lipat lebih tinggi dibanding laporan resmi.
Metana sendiri dikenal sebagai gas rumah kaca dengan daya rusak 80 kali lebih kuat dibanding CO₂ dalam jangka pendek. Sayangnya, emisi metana hingga kini belum masuk hitungan resmi dalam laporan emisi perusahaan, termasuk PTBA.
Sejumlah analisis lain juga menegaskan bahwa klaim hijau PTBA belum sebanding dengan kenyataan. Menurut catatan Tempo.co, porsi terbesar emisi PTBA justru berasal dari Scope 3, yaitu emisi yang dihasilkan dari pemakaian batu bara oleh pelanggan.
Emisi jenis ini terus meningkat sejak 2021, meski sempat turun sedikit pada 2023. Fakta tersebut menegaskan bahwa bisnis utama PTBA masih meninggalkan jejak karbon raksasa yang berada di luar kendali langsung perusahaan.
Selain dampak lingkungan, aktivitas tambang batu bara juga menimbulkan masalah kesehatan serius. Studi yang dipublikasikan di Aerosol and Air Quality Research (2024) mencatat prevalensi black lung disease (penyakit paru hitam) pada penambang batu bara Indonesia mencapai 13,88 persen.
Penelitian lain di kawasan tambang Tanjung Enim bahkan menemukan adanya paparan radioaktivitas alami yang dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Dengan sederet fakta tersebut, PTBA tampak terjebak dalam kontradiksi. Di satu sisi, perusahaan berusaha menampilkan wajah ramah lingkungan melalui reklamasi lahan dan pembangunan PLTS skala kecil.
Namun di sisi lain, bisnis utama tetap bergantung pada batu bara – komoditas yang semakin ditinggalkan pasar global dan terbukti menimbulkan dampak lingkungan serta sosial.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tegaskan Jerat Pajak untuk Crazy Rich: Tak Ada Lagi Jalan Kabur bagi Pengemplang
Tangis Nanik Deyang dan Gelombang Kasus Keracunan MBG: BGN Janji Evaluasi Total di Tengah Krisis Kepercayaan
Lia Istifhama Hadiri Mediapreneur Talks Promedia di Surabaya, Dorong Kolaborasi Jurnalis Lokal untuk Tingkatkan Kualitas Media
Proyek Pani EMAS Siap Jadi Tambang Emas Primer Terbesar di Asia Pasifik, Produksi Komersial Dimulai 2026
10,7 Juta Warga Indonesia Butuh Kerja Setiap Tahun, Kemenaker Ingatkan Tantangan Besar Pemerintah