Bukan Sekadar Pelukan dan Tawa: Makna Mendalam Hari Persahabatan Internasional yang Diperingati Tiap 30 Juli

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 30 Juli 2025 | 13:55 WIB
Hari Persahabatan Internasional yang Diperingati Tiap 30 Juli (Pinterest @pngtree)
Hari Persahabatan Internasional yang Diperingati Tiap 30 Juli (Pinterest @pngtree)

TITIKTEMU.CO - Tiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati sesuatu yang tampak sederhana tapi menyimpan kekuatan luar biasa: Hari Persahabatan Internasional.

Di balik pelukan hangat, candaan kecil, atau sekadar pesan “kabar kamu gimana?”, tersimpan harapan besar: dunia yang lebih damai.

Momen ini tak sekadar simbolik. Ini adalah ajakan global yang disuarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar kita, manusia dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan bangsa, bisa saling terhubung melalui jembatan yang disebut persahabatan.

Baca Juga: Isi Tas Arya Daru di Rooftop Kemenlu Bikin Publik Terdiam: Ada Laptop, Obat, dan Belanjaan GI

Dari Resolusi PBB ke Pelukan Antarbangsa

Gagasan Hari Persahabatan Internasional pertama kali dicanangkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2011.

Idenya sederhana tapi revolusioner: bahwa persahabatan antarbangsa, masyarakat, dan individu bisa menjadi pondasi untuk perdamaian dunia.

Menariknya, akar pemikiran ini sudah tertanam lebih lama, yaitu sejak 1997, ketika UNESCO mengusulkan konsep "budaya damai".

Dalam usulan tersebut, perdamaian tak cukup hanya dideklarasikan; ia harus dibentuk melalui nilai, sikap, dan kebiasaan yang menolak kekerasan dan mencari penyelesaian dari akar masalah.

Dan siapa yang paling bisa memainkan peran itu? Kaum muda. Ya, generasi yang hari ini berteman di media sosial, saling berbagi cerita lintas negara, bahkan sebelum bertemu langsung.

Baca Juga: Bahlil: Pilkada Langsung Bikin Tetangga Saling Diam, Mungkin Sudah Saatnya Lewat DPRD Lagi?

Persahabatan Itu Sederhana, Tapi Radikal

PBB tidak meminta kita menggelar acara megah atau membuat deklarasi panjang.

Mereka justru mendorong hal-hal yang tampak sederhana: mengadakan kegiatan lintas budaya, membangun dialog, saling mendengarkan, dan—yang paling penting—menghargai perbedaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X