“Demokrasi itu bukan tujuan negara, tapi instrumen untuk mencapainya.
Maka dari itu, kita harus cari instrumen terbaik yang selaras dengan budaya ketimuran kita, bukan cuma meniru sistem luar,” ucapnya lagi.
Ia berharap semua pihak bisa melakukan introspeksi dan terbuka pada perubahan yang memungkinkan sistem politik berjalan lebih harmonis tanpa gesekan horizontal di akar rumput.
Baca Juga: Konflik Memanas, Thailand dan Kamboja Sepakat Bertemu di Malaysia Bahas Gencatan Senjata
Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD memang menuai pro dan kontra. Namun suara Bahlil menunjukkan bahwa diskusi soal sistem demokrasi belum final.
Terlepas dari arah kebijakan ke depan, satu hal yang perlu diingat: demokrasi bukan hanya soal suara terbanyak, tapi juga tentang bagaimana suara itu membentuk tatanan yang damai dan beradab.
Pilihan format boleh berubah, tapi semangat demokrasi harus tetap hidup.***
Artikel Terkait
Konflik Memanas, Thailand dan Kamboja Sepakat Bertemu di Malaysia Bahas Gencatan Senjata
Misteri Kematian Diplomat Arya Daru: Kompolnas Tekankan Transparansi, Keluarga Tunggu Jawaban
Halaman Rumah Warga Pasuruan Jadi Parkiran Penonton Sound Horeg, Aksi Protes Pemilik Bikin Panik
Prayogo Pangestu Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes, Punya Harta Rp542 Triliun, Ini Daftar Triliuner Lengkapnya
Panggilan Dari Kubur Tayang di Bioskop 14 Agustus 2025, Nirina Zubir Diteror Habis-habisan
Rayakan Ulang Tahun Moana ke-3 dengan Acara Mewah Bernilai Rp1 Miliar? Ria Ricis Ungkap Alasannya
Ria Ricis Ungkap Tamu Paling Istimewa di Pesta Ulang Tahun Moana, Bukan Evan DC?
5 Serial dan Film Terbaik Garapan Sutradara Yandy Laurens, Kamu Sudah Nonton Semua?
Begini Penjelasan Ending Drama Korea S Line, Misteri Terpecahkan atau Masih Menggantung?
Suzuki Pamerkan e-Vitara di GIIAS 2025, Mobil Listrik Modern, Mengaspal di Jalanan Indoneia Tahun Depan