Setelah lama berjalan menuju arah Selatan Lasem, ia kemudian menemukan tempat tersebut.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1734, saat Belanda melakukan penyerangan.
Mbah Jumali kemudian mendirikan gubuk bersama dengan santri-santrinya untuk mengajarkan agama Islam.
Baca Juga: Minat Jadi Driver Online? Grab Semarang Buka Lowongan Mitra
Ketika mengajarkan agama Islam kepada santri-santrinya, tak lupa mbah Jumali juga menyuguhkan santapan opor Tuyuhan ini.
Lontong Tuyuhan memang agak berbeda bila dibandingkan dengan lontong sayur pada umumnya.
Lontong Tuyuhan berbentuk segi tiga.
Secara filosofis, bentuk segi tiga merupakan makna cinta kepada tiga hal, yaitu Tuhan, alam semesta dan sesama manusia.
Baca Juga: Taklukkan Watford, Arsenal Menapak Posisi Lima Besar Liga Inggris
Perbedaan lainnya adalah bumbunya.
Bumbu lontong Tuyuhan lebih mak nyus, campuran dari kemiri, jinten dan bawang.
Kuah lontong yang berupa santan, juga dilengkapi dengan opor ayam kampong, yang dipotong dengan ukuran besar, jeroan dan potongan tempe.
Baca Juga: 7 Wisata Semarang Instagramable, dari Tempo Doeloe Hingga Kekinian
Tak perlu menunggu lapar datang yah… Sila datang ke warung lontong tuyuhan ini.
Lokasinya juga mudah dijangkau.
Artikel Terkait
Benar-benar Lezat, Ini Kuliner Khas Wonogiri yang Bikin Susah Move On
Mencicipi Lezatnya Rabeg Kuliner Khas Banten. Sekalian Resepnya Ya...
7 Kuliner Khas Solo yang Best of The Best, Jangan Lewatkan!
7 Kuliner Ekstrim di Jateng dan Yogyakarta, dari Sate Landak Sampai Rica-rica Bulus
7 Kuliner Khas Klaten, Bikin Ketagihan!
7 Wisata Kuliner Malam Jogja, Bikin Nagih!