TITIKTEMU.CO - Netizen Kota Solo dan sekitarnya dihebohkan dengan berita viral tentang warung kaki lima yang menjual thengkleng dengan harga yang tidak masuk akal. Warung thengkleng yang disebutkan netizen itu sebenarnya letaknya bukan di Solo, tepatnya di kawasan bisnis di Kabupaten Sukoharjo, yakni Solobaru.
Seorang netizen mengeluarkan uneg-unegnya tersebut melalui caption foto di grup Facebook Info Cegatan Solo (ICS) di pada Minggu, 5 Desember 2021. Postingan itu mendapatkan ribuan komentar dan viral di media sosial.
Netizen tersebut mengeluhkan harga dua porsi thengkleng yang tidak masuk akal. Postingan keluhan netizen ini belakangan baru diketahui pemilik warung yang melihat trafik penjualan menu makanannya yang semakin sepi.
"Mulane kok sepi. Enek wong liwat tapi kok ming ngelirik tok? (Pantas kok sepi. Ada orang lewat tapi hanya melirik)?" kata Bu Harsi kepada channel YouTube Cah Solo Motovlog, Senin 6 Desember 2021.
Kabar terakhir yang diperoleh menyebutkan, belakangan diketahui pemilik warung tidak bisa membaca dan menulis. Paguyuban PKL Solobaru, Grogol, Sukoharjo pun turun tangan dan menghubungi pihak terkait untuk memberikan edukasi.
Namun, tahukah Anda bahwa thengkleng Solo ini awalnya bukanlah hidangan istimewa sebagaimana tongseng, sate dan varian masakan lainnya.
Untuk lebih jelasnya, ini dia 7 fakta tentang Thengkleng yang kami kutip dari berbagai sumber.
Thengkleng (Instagram)
1. Bukan untuk Tamu
Thengkleng merupakan varian masakan berbahan dasar daging kambing. Semula, menu favorit pecinta kuliner Solo ini tidak untuk dihidangkan bagi para tamu.
Para tamu pada waktu thengkleng ini belum tercipta, diberi sajian masakan seperti sate dan tongseng yang semuanya berbahan dasar daging. Sedangkan bagian tubuh lainnya, bahkan lemaknya, tidak digunakan.
Baca Juga: Rumor Transfer Liga Premier Inggris, Manchester United, Liverpool dan Arsenal Berburu Pemain
2. Berbahan Jeroan, Kepala dan Tulang Belulang
Adapun bagian tubuh yang tidak layak disajikan itu terdiri dari jeroan, seperti hati, limpa, paru, usus, babat, jantung, dan organ dalam lainnya.
Selain jeroan, thengkleng juga memasukkan organ vital (tropedo), serta bagian kepala dan seisinya. Maka jangan heran jika ada mata, potongan mulut, lidah, gigi, bahkan otak kambing yang dibungkus khusus dengan daun pisang.
Selain itu, ada tulang belulang kambing yang juga dimasak untuk dinikmati sungsumnya, serta sisa-sisa sayatan daging dan lemak yang masih banyak menempel di bagian tulangnya.
Belum ada bukti lengkap tentang kapan dan siapa penemu menu thengkleng, tapi sejarahwan yang juga dosen Universitas Sanata Darma, Heri Priyatmoko menyebutkan bahwa, thengkleng ada sejak zaman penjajahan Jepang di mana terjadi krisis pangan. Secara kreatif, warga Solo pun mengolah 'limbah' kambing supaya enak dimakan.
3. Santan Encer
Dilihat dari warnanya, sekilas thengkleng hampir mirip dengan gulai kambing. Hanya, komposisi santan untuk gulai lebih kental. Ini berbeda dengan thengkleng yang justru takaran santannya lebih encer.
Jadi jika pecinta kuliner memesan thengkleng tapi santannya ternyata dirasa terlalu kental, itu berarti ada kesalahan komposisi santannya.
4. Lebih Sedap di Masak di Kuali
Sebagaimana soto, thengkleng jadi terasa nikmat dan sedap jika dimasak di dalam kuali berbahan tanah liat atau gerabah. Tapi semuanya itu tetap tergantung kelihaian si juru masaknya.
5. Disajikan Tanpa Nasi
Karena santannya cenderung encer dan tidak terlalu menonjol sensasi asinnya, thengkleng biasanya disajikan tanpa nasi. Dengan komposisi santan dan bumbu yang tidak terlalu pekat, menu ini justru akan terasa hambar jika dinikmati dengan nasi.
Namun, lagi-lagi semuanya tergantung selera. Maka tidaklah mengherankan jika hampir semua warung makan thengkleng di Solo tetap menyediakan menu nasi.
Baca Juga: Uji Coba Penonton Saksikan Langsung 8 Besar Liga 2 Dipastikan Bakal Terapkan Prokes Ketat
6. Lama-lama Naik Kasta
Peranan program televisi bertema kuliner ternyata cukup membantu publisitas menu thengkleng. Hingga sampai saat ini, menu ini menjadi favorit, bahkan kalangan menengah ke atas. Kasta dan harganya pun dapat mengimbangi harga sate kambing.
Hal ini dapat pula dilihat dalam acara gathering, standing party acara keluarga asal Soloraya yang menyajikan menu thengkleng secara prasmanan. Nasib yang sama dialami sate kere yang dulunya berbahan tempe gembus karena memang sate kw. Tapi sekarang, harga sate kere sudah tidak lagi kere karena bahannya mulai bervariasi, dari jeroan hingga bagian lemak sapi.
7. Variannya Berkembang
Seiring dengan bergeliatnya bisnis kuliner, menu thengkleng pun mengalami perkembangan. Di antaranya adalah thengkleng sungsum dan thengkleng pedas berbumbu rica-rica.
Menu varian thengkleng ini dapat Anda temukan di rumah makan sate Pak Manto Pasar Kembang yang menyajikan thengkleng sungsum dengan bahan full tulang belulang. Pengunjung menikmati sungsum dari setiap potongan tulangnya, langsung sebagaimana sedotan es teh.
Thengkleng sumsum Pak Manto, Solo (Instagram)
Varian thengkleng pedas ini juga dapat Anda temukan di warung thengkleng Alun Alun Sukoharjo dan di warung sate kambing Barokah Kabupaten Karanganyar.
Tak hanya itu, sejumlah rumah makan juga menyajikan thengkleng dengan bahan 'limbah sapi'. Menu ini khusus disediakan bagi pengunjung yang punya riwayat darah tinggi.***