“Tahun 1980-an kami sempat akan merenovasi bangunan menjadi modern. Tapi akhirnya kami memilih mempertahankan keasliannya,” kata Jenny, pemilik Toko Oen generasi ketiga
Baca Juga: Bale Reren, Manjakan Penikmat Kuliner Santap Masakan Khas Sembari Belajar Budaya Jawa
Konsekuensinya, Jenny harus kerja ekstra. Apalagi menu-menu yang disajikan juga dipertahankan yang bisa jadi jauh dari selera masakan masa sekarang.
Toko Oen konsisten menjaga resep, juga perlatan masaknya. Pembuat es krim bahkan masih menggunakan alat yang sama sejak Toko Oen pertama kali buka. Alat didatangkan langsung dari dari Italia awal 1920-an.
Jenny sengaja tidak menggunakan mesin baru karena akan mempengaruhi rasa dan tekstur. Dia pun memilih membeli sparepart bekas agar mesin es krimnya tetap jalan.
Baca Juga: Mau Coba ? Jenang Bu Jum, Bisa Dapat 8 Rasa Pilihan
“Kami punya teknisi khusus . Toh tidak setiap tahun beli sparepart juga,” ujarnya.
Mereka yang menyukai ornamen tempo doloe pasti akan sangat menikmati suasana Toko Oen. Apalagi menu-menu yang disajikan benar-benar menggoda lidah.
Beberapa sajian signature dish dari restaurant ini adalah kue ganjel rel dan loenpia (lumpia) yang menjadi ikon Kota Semarang.
Kue ganjel rel ini sama dengan kue gambang di Jakarta. Bentuknya yang mirim ganjal rel kereta api kemudian disebut kue ganjel rel.
Baca Juga: Awas Ah, Ketagihan Makan Tim Ikan Asin Jambal
Yang harus dicicipi di Toko oen adalah es krim jadul dengan resep tahun 1920, yaitu tutti frutti. Inilah ice rasa coklat dengan aneka buah kering sebagai topping.
Selain es krim, menu yang paling banyak dicari adalah bestik lidah. Sajian ini benar-benar juara. Turis asing menjadi bestik lidah ini sebagai menu wajib.
Restoran legendaris ini pada akhirnya memang bukan sekadar rumah makan. Toko Oen bisa dibilang rekaman panjang masa silam. Seperti mesin waktu yang membawa pengunjungnya ke suasana masa-masa kolonial.***