TITIKTEMU.CO SLEMAN - Gudeg adalah makanan tradisional dan menjadi ikon dari Yogyakarta. Belum lengkap rasanya, apabila wisatawan atau masyarakat luar daerah yang berkunjung ke Yogyakarta, belum menikmati lezatnya gudeg.
Gudeg merupakan sayuran berwarna coklat gelap berasa manis yang terbuat dari nangka muda (atau disebut gori dalam bahasa Jawa).
Baca Juga: Liga Premier Inggris: Edinson Cavani Selamatkan Manchester United dari Kekalahan Melawan Newcastle
Bumbu dari gudeg sangat khas dan penuh rempah. Rasa manisnya diperoleh dari gula kelapa (gula merah).
Bumbu yang biasa dipakai dalam membuat gudeg adalah laos, daun salam, bawang putih dan bawang merah, kemiri, ketumbar dan yang khas yang biasa dijadikan bahan pewarna gudeg adalah saun jati. Diperlukan waktu lebih dari 6 jam untuk memasak gudeg, kadang sampai kuahnya kering.
Baca Juga: Taman Tresno Jasa Marga Kulon Progo Diresmikan
Ada dua macam gudeg, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Beda antara gudeg basah dan gudeg kering. Beda antara gudeg basah dan kering adalah pada arehnya.
Areh adalah kuah yang sangat kental terbuat dari santan kelapa bercampur dengan ampas minyak kelapa atau blondho. Jenis gudeg basah yaitu lebih berkuah dan bersantan lebih banyak.
Gudeg basah biasanya lebih pedas. Gudeg kering, arehnya lebih kering dan berasa lebih manis.
Baca Juga: Menikmati Bakso Lombok Uleg Khas Temanggung
Dikutip TITIKTEMU.CO dari laman Pemkab Sleman, jaman dahulu orang Yogya hanya mengenal satu jenis gudeh, yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal setelahnya sekitar 57-an tahun dari saat sekarang ini.
Hal ini setelah orang-orang dari luar Yogya mulai membawanya sebagai oleh-oleh. Keuntungannya, gudeg pun tumbuh sebagai home industry makanan tradisional di Yogyakarta.
Gudeg Yu Djum contohnya yang terkenal dengan gudeg basah, sedangkan Gudeg Hj. Amad dan Gudeg Yu Narni terkenal dengan gudeg kering.