Ada beberapa gejala hipoksia yang umum terjadi, di antaranya:
• Tubuh terasa lemas
• Kulit terlihat pucat
• Kuku dan bibir berwarna kebiruan (sianosis)
• Detak jantung menjadi cepat atau melambat
• Batuk-batuk
• Sesak napas
• Sakit kepala
Selain itu, hipoksia juga dapat terjadi pada orang yang menyelam hingga kedalaman tertentu atau berada di ketinggian tertentu.
Baca Juga: Masih Bingung Apa Itu Vaksin Booster? Simak Tanya Jawab Berikut Supaya Makin Jelas
Pada kondisi tertentu, hipoksia bisa terjadi tanpa gejala apa pun dan baru terdeteksi ketika seseorang menjalani pemeriksaan darah atau pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter.
Kondisi hipoksia tanpa gejala inilah yang dinamakan silent hypoxia atau happy hypoxia. Kondisi happy hypoxia dilaporkan dapat terjadi pada sebagian penderita COVID-19.
Kondisi hipoksia, baik yang yang bergejala maupun tidak, perlu segera ditangani oleh dokter. Untuk menangani hipoksia, dokter akan memberikan terapi oksigen serta menangani penyakit atau kondisi yang menyebabkan penurunan kadar oksigen tersebut.
Pada penderita hipoksia yang masih dapat bernapas, hipoksia bisa ditangani dengan pemberian oksigen, baik menggunakan tabung maupun konsentrator oksigen kemudian disalurkan menggunakan selang atau masker.
Sedangkan pada penderita yang sudah mengalami penurunan kesadaran atau tidak dapat bernapas, dokter akan memberikan oksigen melalui ventilator dan melakukan perawatan di ruang ICU.
Jika Anda merasakan gejala COVID-19 atau pernah kontak dengan orang yang positif COVID-19, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Bila Anda dinyatakan terinfeksi virus Corona, tetaplah waspada meskipun tidak mengalami gejala, karena bisa saja terjadi kondisi happy hypoxia ini.***