Namun, pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, efek ganja justru terlihat dapat mengobati gejala mual dan muntah.
- Sistem kekebalan tubuh
Efek ganja diduga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana efek ganja memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Di sisi lain, ganja dapat digunakan untuk meningkatkan nafsu makan pada penderita HIV dan AIDS.
- Kehamilan dan menyusui
Mengisap ganja selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin, menghambat pertumbuhan janin, serta menyebabkan cacat lahir dan gangguan pada janin. Selain itu, mencampur ganja dan tembakau juga diduga dapat meningkatkan risiko bayi terlahir prematur atau berat badan lahir rendah.
Efek ganja tak hanya berbahaya bagi tumbuh kembang bayi, tetapi juga ibu hamil. Ibu hamil yang menggunakan ganja berisiko tinggi mengalami anemia, kebingungan, dan mudah lupa selama masa kehamilan.
Baca Juga: Ingat! Belum Divaksin Dilarang Pergi-pergi Selama Libur Nataru
Bagi ibu menyusui, ganja dapat membuat zat kimia yang disebut tetrahydrocannabinol (THC) terserap ke dalam ASI. Bahan kimia ini bisa bertahan di dalam ASI selama lebih dari 6 minggu, bahkan setelah penggunaan ganja dihentikan. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan bayi.
Selain itu, efek ganja juga bisa menimbulkan halusinasi, delusi, cemas, dan depresi. Bahkan, penggunaan ganja dalam jangka panjang dapat menyebabkan seseorang terkena gejala putus obat yang meliputi insomnia, perubahan mood, dan penurunan nafsu makan. ***