“Pembangunannya dimulai (lagi) sejak 12 April 2021 hingga 8 Oktober 2021 dengan dibiayai dari APBD bersumber dari DED tahun 2021, dengan menghabiskan biaya sebesar Rp.3.848.538.000, di atas tanah seluas 1.185 meter persegi dan luas bangunan total 1.200 meter persegi. Bangunan pasar terdiri dari 29 unit kios, 144 los, 8 unit los daging dengan jumlah pedagang 121 (ada pedagang memiliki lebih dari 1 los). Pembangunan juga dilengkapi dengan fasilitas kantor Lurah Pasar atau pengelola pasar,” jelas Heru.
Baca Juga: Wabah Covid 19 Melanda Liga Premier, Kompetisi Sepakbola Inggris Tetap Berlanjut
Peresmian Pasar Senggol Purwosari diawali dengan transaksi non tunai atau QRIS dari BNI Slamet Riyadi.
Setelah Pasar Senggol Purwosari, menyusul Pasar Legi yang akan diresmikan tak lama lagi.
Terkait dengan sampah Pasar Senggol Purwosari, nantinya akan dikelola dengan konsep ekosistem dengan kolaborasi pengelolaan sampah di pasar-pasar, sesuai dengan SOP yang ditetapkan.
Baca Juga: Omicron Menyebar, Indonesia Tambah Tiga Negara dalam Daftar Larangan Masuk
Menilik sejarah, pada masa penjajahan Belanda, pasar di Purwosari ada dua.
Di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi dan Pasar Purwosari, yang lokasinya di selatan Perempatan Purwosari dan sisi barat Jalan Slamet Riyadi.
Ini adalah kawasan jual beli barang kebutuhan pokok, yang menempel pada bangunan berbentuk emplek – emplek, sehingga kelihatan kurang tertata.
Baca Juga: 7 Lagu Natal Paling Populer dari Masa ke Masa, Lengkap dengan Sejarah, Lirik dan Chord-nya
Yang lainnya, ada di perkampungan di sebelah barat, berupa tanah terbuka sebagai kawasan jual beli yang sangat ramai dikunjungi pembeli.
Di sisi selatan jalan Slamet Riyadi, terdapat sungai kecil yang mengalir ke timur sehingga akses melalui jembatan kecil.
Akibatnya, setiap orang yang melintas jembatan menuju ke dalam pasar, dipastikan bersenggolan. Oleh karena itulah, pasar tersebut disebut Pasar Senggol.
Baca Juga: Bukan Sekadar Minuman Penghangat, Ini 7 Manfaat Wedang Uwuh untuk Kesehatan
Komoditas yang diperjualbelikan di Pasar Senggol Purwosari terdiri dari beras, gula, sayur dan kelapa. Alat angkut menuju Pasar Senggol pada masa itu, berupa kuda yang diberi bronjong.*** (surakarta.go.id)
Artikel Terkait
7 Warung Bakmi Jawa di Solo Paling Top, Tak Bisa Pindah ke Lain Warung!
7 Kedai Kopi di Solo yang Kopinya Enak dan Asyik Buat Ngumpul
Keren ! Solo Akan Mempunyai Destinasi Kampung Wisata Prajurit Wiro Tamtomo
Solo, Yogya dan Bali Jadi Pilot Project Wellness Tourism Indonesia, Apa itu Wellness Tourism?
Dibuka, Casting Pemeran Film tentang Srimulat di Solo!! Jangan Ketinggalan!!!!
7 Fakta Tentang Thengkleng Solo yang Sempat Viral Gara-gara Keluhan Netizen