Sementara itu, Gamelan Sekati yang biasanya dikeluarkan dari keraton dan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe untuk dibunyikan selama satu minggu, saat ini tidak dilakukan.
Baca Juga: Liga Champions: Gol Tunggal Gerard Pique Menangkan Barcelona Melawan Dynamo Kiev
“Miyos Gangsa (keluarnya Gamelan Sekati dari keraton ke pagongan) dan Kondur Gangsa (kembalinya Gamelan Sekati dari pagongan ke keraton) termasuk udhik-udhik, tidak dilakukan, sama seperti tahun lalu,” imbuh putri kedua Ngarsa Dalem ini.
Meski arak-arakan gunungan dan prajurit ditiadakan, lanjut GKR Condrokirono, esensi dari pelaksanaan Garebeg tidaklah hilang yaitu sebagai perwujudan rasa syukur dari raja atas melimpahnya hasil bumi yang dibagikan kepada rakyatnya.
“Hal ini bentuk konsistensi keraton dalam melestarikan budaya di berbagai situasi,” tegasnya.***
Artikel Terkait
Jokowi Akan Membangun Istana Kepresidenan ke 7 di Papua?
Wali Kota Solo Gibran Dapat Gelar dari Kraton Kasunanan Solo.
Jumlah Jamaah Lebih Banyak Dibanding Laki-Laki, Kemenag Akan Tambah Pembimbing Haji Perempuan
Duh! Klaster PTM di Solo Bertambah. Gibran: Tenang, Tatap Muka Jalan Terus
7 Film Bertema Sepakbola yang Sangat Menyentuh, Sudah Nonton?