TITIKTEMU.CO, YOGYAKARTA – Tradisi arak-arakan untuk memperingati Maulid Nabi ditiadakan.Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan tidak menggelar Garebeg Mulud tahun ini, seperti tahun sebelumnya.
Sri Sultan menjelaskan kondisi pandemi Covid-19 tidak memungkinkan digelarnya acara Garebeg Mulud yang berpotensi mengundang kerumunan.
Pengumuman tidak digelarnya Garebeg Maulud tercantum dalam akun resmi instagram @kratonjogja. Pihak Keraton Yogyakarta menyebut tahun ini tidak ada arak-arakan prajurit dan gunungan Garebeg Mulud.
“Sehubungan dengan masih diberlakukannya PPKM Darurat di wilayah DIY, Keraton Yogyakarta akan meniadakan arak-arakan prajurit dan Gunungan Garebeg Mulud dalam rangka peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Selasa, 19 Oktober 2021/12 Mulud Alip 1955.” demikian tulis akun tersebut.
Baca Juga: 7 Warung Soto di Solo Ini Buka Malam Sampai Dini Hari, Enak, Murah, dan Legend!
Meski demikian masyarakat dapat menyimak berbagai video dan tutorial seputar Keraton Yogyakarta secara daring melalui media sosial resminya.
Meskipun acara arak – arakan gunungan Garebeg Maulud ditiadakan, tradisi sekaten lainnya tetap berlangsung. Seperti menabuh gamelan sekaten yang dibunyikan pada pukul 16.00 WIB sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Kemudian tradisi terakhir yaitu dikembalikannya gamelan sekaten dari halaman Masjid Besar ke Kraton sebagai tanda berakhirnya upacara Sekaten.
Hadirnya Sri Sultan beserta pengiringnya ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan Riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, diselenggarakan pada tanggal 11 Rabiul Awal.
Baca Juga: Konser Hybrid, Opsi Penyelenggaraan Acara Musik di Masa Pandemi
Garebeg Maulud biasanya ditandai dengan keluarnya gunungan yang akan diperebutkan.
Biasanya syiar agama Islam di lingkungan Keraton untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw diawali dengan rangkaian Sekaten yang dilaksanakan dari tanggal 5 hingga 12 Rabi’ul Awal atau dalam kalender Jawa disebut bulan atau sasi Mulud.
Pada saat sekaten digelar, seperangkat alat gamelan yang disebut Gangsa Sekati milik Kasultanan Yogyakarta yaitu Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga dimainkan secara bergantian di Bangsal Pagongan yang berada di halaman Masjid Gede Kauman.
Baca Juga: Prokes Menuju Endemi, Tetap Pakai Masker Walau Sudah Vaksinasi Covid-19
Selama gamelan dibunyikan, masyarakat akan berdatangan untuk menyaksikan. Biasanya pula, banyak pedagang sego kuning (nasi kuning) dan kinang (daun sirih) serta endog abang (telur rebus diwarnai merah).
Artikel Terkait
Siap-siap Piknik, Kuy! Ini 10 Destinasi Wisata Jogja Paling Baru
Jogja Akan Hadirkan Kembali Keroncong Plesiran Di Hutan Pinus Sari
PPKM Jogja Level 2, Epidemiolog UGM Ingatkan Tanggung Jawab Masyarakat