Baca Juga: Penghulu Viral, Simak Nasehatnya yang Kocak untuk Pengantin Baru
Setelah 15 tahun proyek selesai, Pemerintah Saudi meminta Muhammad Kamal kembali memasang marmer yang sama di Masjidil Nabawi di Madinah.
Sang arsitek sempat kebingungan karena 1/2 dari funung marmer sudah ia beli. Muhammad Kamal kemudian pergi ke perusahaan yang sama di Yunani, dan menanyakan marmer yang tersisa. Namun, setengah marmer telah dijual ke seseorang.
Pada hari berikutnya, Kamal menerima kabar dari perusahaan yang mengatakan telah menemukan alamat pembeli, sebuah perusahaan di Saudi Arabia.
Ia kembali ke Saudi dan mendatangi kantor perusahaan tersebut. Rupanya, semua marmer masih ada, dan tidak pernah digunakan. Muhammad Kamal menyodorkan cek kosong dan meminta pemilik marmer menuliskan jumlah yang diinginkan, berapa pun besarnya.
Baca Juga: Membaca Surat Yasin Setiap Hari, Ini yang Akan Terjadi
Namun, saat pemilik marmer tahu bahwa batuan itu untuk pembangunan Masjid Nabawi, dia menolak pembayaran.
“Allah yang membuat saya membeli marmer ini dan kemudian melupakannya. Itu artinya marmer ini memang sudah ditakdirkan Allah untuk Masjid Nabawi,” katanya.
Sikap pemilik marmer ini sama seperti Muhammad Kamal Ismaeel yang menolak menerima bayaran untuk desain teknik dan pengawasan arsitekturalnya dari Raja Fahd dan perusahaan Bin Laden.
”Mengapa saya harus menerima uang untuk pekerjaan di dua masjid suci ini? Bagaimana saya akan menghadapi Allah pada pada Hari Pengadilan nanti?),” ujarnya.
Baca Juga: Ini Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi, Jangan Sampai Nggak Baca Ya
Muhammad Kamal Ismaeel adalah orang termuda dalam sejarah Mesir yang memperoleh ijasah sekolah menengah, orang termuda yang mendaftar di Royal School Off Engginering, dan menjadi wisudawan termuda.
Ia juga mencetak rekor sebagai orang termuda yang dikirim ke Eropa untuk mendapatkan tiga gelar doktor dalam arsitektur Islam, mendapatkan syal Nill dan pangkat besi dari Raja Saudi Arabia.
Ia menikah pada usia 44 tahun, istrinya melahirkan seorang anak, tapi kemudian meninggal. Sejak itu ia melajang. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani dua Masjid Suci. Jauh publisitas, ketenaran, dan uang.***