TITIKTEMU.CO - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan langkah dramatis berupa blokade penuh di Selat Hormuz setelah perundingan damai selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Keputusan yang berpotensi mengguncang stabilitas geopolitik sekaligus memicu lonjakan harga minyak global karena selat tersebut merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Negosiasi Panjang Berakhir Tanpa Kesepakatan
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Donald Trump melalui platform media sosialnya, hanya beberapa saat setelah Wakil Presiden JD Vance mengonfirmasi bahwa perundingan yang berlangsung intens selama hampir sehari penuh tidak berhasil mencapai titik temu.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai memblokade kapal yang mencoba masuk maupun keluar dari Selat Hormuz.
Ia juga menyebut bahwa kapal yang terbukti membayar izin lintas kepada Iran akan dicegat, sementara armada militer AS diperintahkan untuk menetralkan ranjau laut yang dipasang di kawasan tersebut.
Trump mengklaim bahwa operasi militer ini tidak akan dilakukan sendirian karena beberapa negara sekutu disebut akan ikut berpartisipasi, meskipun ia tidak menjelaskan secara detail siapa saja yang akan terlibat dalam operasi tersebut.
Baca Juga: Wacana War Ticket Haji Ramai Dibahas, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian
Ketegangan Memuncak Sejak Serangan Februari
Krisis di kawasan tersebut sebenarnya sudah memanas sejak akhir Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei.
Pasca serangan tersebut, pasukan elit Iran Islamic Revolutionary Guard Corps membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, menyebabkan aktivitas kapal tanker turun drastis dalam waktu singkat.
Laporan industri energi menunjukkan bahwa volume kapal tanker yang melintas sempat merosot lebih dari 90 persen, mengganggu distribusi sekitar 10 juta barel minyak per hari di pasar global.
Situasi ini memicu kekhawatiran luas karena sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan perdagangan LNG internasional melewati selat sempit tersebut setiap hari.
Negara-negara Asia, termasuk China, merupakan penerima utama pasokan energi dari jalur ini.
Artikel Terkait
Love & 10 Million Dollars Tayang 17 April di WeTv: Harta, Tahta, Davina!
Gelar Ruang Dialog Ilmiah USAHID Soroti Perkembangan Geopolitik. Perang Modern: Dari Senjata ke Algoritma dan Konstruksi Kebenaran
Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo dan Prameks Jogja–Kutoarjo 13–18 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru!
Nippon Sangoku Episode 2 Sub Indo: Sinopsis, Jadwal Tayang, dan Link Nonton
Slow Living di Desa, Nasehat untuk Orang Kota: Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata
Drama Korea Bertema Chaebol Paling Ikonik: Dari Cinta Kontrak hingga Dunia Elite yang Penuh Intrik
Wacana War Ticket Haji Ramai Dibahas, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian
Ramai Sorotan Anggaran Rp113 Miliar untuk EO, Ini Penjelasan Badan Gizi Nasional
Descendants of the Sun Versi Indonesia Siap Diproduksi, Reza Rahadian dan Dian Sastro Pemeran Utama?
Perfect Crown Meledak di Episode 2, Pimpin Rating Drama Korea di Slot Tayang