“Apa yang dilihat Oetari selama kos di Bandung itu membuatnya gundah sekaligus cemburu. Tapi Oetari tidak berani mengungkapkan pada suaminya. Ia justru mengeluhkan pada ayahnya,” tulis Harian Surabaya Buana.
Kedekatan itu membuat Oetari cemburu. Pada 1922, hubungan antara Bung Karno dan Oetari merenggang. Mereka kemudian pisah ranjang. Jurang di antar mereka semakin lebar, terlebih dengan masuknya Inggit dalam rumah tangga mereka.
Bung Karno menganggap Oetari seperti anak kecil yang tidak mampu tidak mengerti dan mengikuti jalan pikirannya. Bung Karno juga merasa tidak menemukan sosok keibuan yang didambakannya pada Oetari. Bung Karno menginginkan seorang istri yang juga bisa menjadi seorang ibu, kekasih, dan seorang teman. Di mata Soekarno, Oetari hanya punya sikap kenak-kanakan.
Sosok wanita istri dambaan itu justru ditemukan pada diri Inggit. Terlebih kondisi rumah tangga induk semaknya itu juga tidak baik. Perubahan sikap Haji Sanusi membuat Inggit kesepian.
Usia Inggit 15 tahun lebih tua dari Si Bung. Dengan usianya, Inggit terlihat jauh lebih dewasa dalam bersikap. Ia bisa menjadi seperti seorang ibu, kekasih, dan teman berbincang seperti dambaan Soekarno.
Rumah Tangga Tidak Bahagia
Menurut Bung Karno dalam buku “Kisah Istimewa Bung Karno” (2010: 36), Haji Sanusi adalah seorang suami yang setiap hari menghabiskan waktunya di luar rumah untuk mengurus pergerakan. Istrinya ditinggalkan sndirian. Kehidupan rumah angga mereka sama hambarnya dengan rumah tangga Soekarno-Oetari.
“Bu Inggit kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Perkawinanku tidak betul. Adalah wajar, hal-hal yang demikian (cinta) kemudian tumbuh,” ujar Soekarno.
Menurut Soekarno, rumah tangga Inggit dan Haji Sanusi sudah hancur jauh sebelum dia datang.
Pada akhir 1921, Tjokroaminoto ditangkap Belanda. Soekarno pulang ke Surabaya untuk membantu meringankan beban mertuanya, sedangkan Oetari tetap di Bandung. Soekarno mengajar untuk mendapatkan penghasilan. Ia menggantikan tugas kepala keluarga yang dipenjara.
Selama tujuh bulan di Surabaya, Soekarno kembali ke Bandung pada Juli 1922. Namun, pertemuannya dengan Oetari tidak membuat hubungan mereka membaik. Soekarno sempat pulang ke Blitar untuk mengadu ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Ia mengeluhkan Oetari, sekaligus menceritakan Inggit, waita yang membuatnya jatuh cinta. Kembai ke Bandung, Soekarno memutuskan untuk memulangkan Oetari kepada ayahnya.
Pada saat yang sama, Haji Sanusi mencium perselingkuhan istrinya. Dia sempat murka, namun kemudian merelakan Inggit. Inggit meminta suaminya untuk menceraikannya. Haji Sanusi pun menjatuhkan talak.
Soekarno Menikahi Inggit Garnasih