Misalnya hampir setiap akhir pekan habis di tempat tidur, tugas makin menumpuk, pola makan berantakan, mandi tertunda, tidur kacau, dan interaksi sosial makin dihindari.
Saat itu, rebahan bukan lagi recharge, tetapi alarm.
Depresi dan burnout sering datang diam-diam.
Tidak selalu berupa tangisan atau kesedihan besar.
Kadang bentuknya justru kehilangan tenaga, sulit memulai hal sederhana, mati rasa, dan ingin terus bersembunyi.
Karena itu, banyak orang mengira dirinya hanya malas, padahal sedang kelelahan mental.
Media sosial juga ikut membingungkan keadaan.
Konten yang memromosikan bed rotting sering terlihat lucu dan relatable. Padahal apa yang cocok sesekali untuk satu orang belum tentu sehat jika menjadi pola hidup orang lain.
Jadi, bagaimana cara menikmati istirahat tanpa terjebak? Pertama, ubah rebahan pasif menjadi recovery sadar.
Tentukan batas waktu, misalnya dua jam untuk tidur siang, membaca, atau menonton santai. Setelah itu bangun perlahan dan lakukan aktivitas ringan.
Kedua, cek kondisi emosimu. Tanyakan jujur: aku sedang capek, atau sedang menghindar?
Jawaban ini penting karena kebutuhan solusinya berbeda. Capek butuh istirahat. Menghindar butuh dukungan dan langkah kecil untuk bergerak.
Ketiga, aktifkan tubuh sedikit demi sedikit.
Rapikan kasur, buka jendela, mandi air hangat, jalan lima menit, atau duduk di luar kamar. Gerakan kecil sering membantu memutus rasa beku mental.