TITIKTEMU.CO - Pernah merasa ingin tetap di kasur seharian, menunda mandi, malas keluar kamar, lalu menyebutnya healing?Jika iya, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini kini populer dengan nama bed rotting.
Istilah ini menggambarkan kebiasaan berlama-lama di tempat tidur sambil scrolling, menonton, tidur lagi, atau sekadar diam tanpa aktivitas berarti.
Bagi banyak Gen Z dan milenial muda, bed rotting terasa seperti bentuk self-care modern.
Setelah minggu yang melelahkan, rebahan total dianggap cara tercepat memulihkan energi. Tidak perlu keluar uang, tidak perlu bertemu orang, dan tidak perlu berpura-pura produktif.
Di satu sisi, istirahat memang penting.
Tubuh dan pikiran butuh jeda dari tekanan sekolah, kerja, tugas, relasi, dan dunia digital yang bising.
Kadang satu hari santai di kasur bisa membantu sistem saraf tenang kembali. Itu valid dan manusiawi.
Masalahnya, tidak semua rebahan adalah pemulihan sehat. Kadang bed rotting bukan istirahat, melainkan pelarian.
Tubuh diam, tetapi pikiran tetap penuh beban. Kasur menjadi tempat bersembunyi dari tugas, rasa cemas, atau emosi yang sulit dihadapi.
Di sinilah penting membedakan self-care dengan sinyal masalah mental. Jika setelah rebahan kamu merasa segar, mood membaik, dan siap kembali beraktivitas, kemungkinan itu memang istirahat yang dibutuhkan.
Baca Juga: Belajar Investasi dari TikTok? Ini Risiko yang Jarang Disadari Gen Z
Tetapi jika setelah seharian di kasur kamu justru makin kosong, bersalah, lelah, dan sulit bergerak esok hari, itu patut diperhatikan.
Tanda lain yang perlu dicermati adalah jika kebiasaan ini terjadi terus-menerus.