Temuan serupa juga muncul dari penelitian internasional yang menyoroti hubungan antara keseimbangan hidup dan kesehatan mental.
Dalam studi terhadap tenaga medis, mereka yang mampu mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi memiliki kondisi psikologis yang jauh lebih baik.
Menariknya, riset dari Cornell University pada 2024 mengungkap bagaimana orang memanfaatkan waktu luang mereka.
Sekitar 60 persen responden menggunakan waktu tersebut untuk aktivitas santai seperti mendengarkan musik, berjalan kaki, atau menikmati minuman favorit.
Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki dampak besar dalam membantu meredakan stres dan menjaga keseimbangan emosi.
Baca Juga: Sabtu-Minggu di Purwokerto, Kuliner dan Liburan Slow Living Seru di Kaki Gunung Slamet
Peran Perusahaan
Tidak hanya individu, perusahaan dan organisasi kini mulai menyadari pentingnya me time bagi karyawan.
Banyak perusahaan mulai menerapkan jam kerja fleksibel, sistem kerja hybrid, hingga program kesejahteraan karyawan untuk menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.
Hasilnya cukup signifikan. Karyawan yang memiliki waktu cukup untuk diri sendiri cenderung lebih produktif, lebih puas dengan pekerjaannya, dan memiliki loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan.
Hal ini membuktikan bahwa me time tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memberikan keuntungan bagi organisasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Sisi Lain Salatiga di Balik Kenyamanannya, Bakal Gantikan Jogja sebagai Kota Slow Living?
Tetap Harus Seimbang
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa me time tetap harus dilakukan secara seimbang. Terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri tanpa interaksi sosial juga bisa berdampak negatif.
Kunci utama dari me time adalah keseimbangan. Waktu untuk diri sendiri perlu diatur secara proporsional dengan pekerjaan dan hubungan sosial.