Alih-alih menyerah, warga Dusun Jambon justru memikirkan jalan lain. Ide itu mencuat; kalau tidak bisa menjadi lahan pertanian yang menjanjikan, mengapa tidak wisata alam?
Tempat Healing Favorit
Mulai 2017, warga bergotong-royong membuka akses jalan, membuat area parkir, membangun gazebo, panggung kecil, musala, dan warung.
Tidak ada arsitek mewah atau perencanaan pariwisata besar, hanya keinginan untuk membuat ruang bagi siapa pun yang butuh istirahat, butuh jeda sejenak dari riuhnya rutinitas.
Hasilnya? Kini Puncak Sosok tidak hanya jadi tempat healing favorit, tapi juga sumber ekonomi bagi lebih dari 200 warga sekitar.
Menjaga parkir, membuka warung, menjadi pengisi panggung, hingga melakukan perawatan area, semuanya memberdayakan warga setempat tanpa campur tangan investor kakap.
Yang paling menarik: Puncak Sosok tetap milik warga. Bukan sekadar destinasi wisata, tapi contoh bagaimana pariwisata yang dikelola komunitas bisa memberikan manfaat nyata.
Baca Juga: Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim
Paket Kebahagiaan Sederhana
Kalau ada satu waktu terbaik untuk datang ke Puncak Sosok, jawabannya sore hingga malam hari. Saat matahari mulai turun, pemandangan berubah dramatis.
Dari atas bukit, siluet kota terlihat lembut, seolah Jogja mengecil, jauh dari keramaian yang biasa kita hadapi. Dan hidup tiba-tiba melambat di tempat ini.
Live music menjadi pelengkap suasana. Bukan music festival yang bising, melainkan alunan santai dengan gitar akustik dan suara musisi lokal.
Kadang pengunjung ikut bernyanyi, kadang ada yang naik panggung untuk menyumbang suara. Semua berlangsung natural tanpa seragam atau aturan ribet.
Baca Juga: Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Jika ingin menikmati kuliner, warung-warung warga menyediakan menu yang sederhana namun pas untuk menemani pemandangan: jagung bakar, mie rebus, pisang goreng, dan kopi hitam.