TITIKTEMU.CO - “Tenang itu mahal.” Kalimat ini sering terdengar di media sosial, biasanya disertai foto lilin aromaterapi, secangkir teh herbal, dan caption tentang self-care Sunday.
Tapi benarkah ketenangan bisa dibeli lewat produk atau aktivitas tertentu?
Kita hidup di masa ketika healing dan self-care bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga gaya hidup yang dipasarkan.
Dari sheet mask hingga retreat spiritual, semuanya dikemas sebagai “jalan menuju ketenangan”.
Namun, di balik itu, muncul pertanyaan besar: apakah ketenangan yang dibeli itu sungguh nyata, atau hanya jeda sementara dari kekacauan batin?
Baca Juga: Mental Health di Tempat Kerja: Menjaga Waras di Tengah Target dan Deadline yang Tak Kenal Ampun
Stoisisme: Ketenangan yang Tumbuh dari Dalam, Bukan dari Etalase
Filosofi Stoisisme menawarkan perspektif berbeda. Bagi para Stoic seperti Marcus Aurelius dan Seneca, tenang bukan hasil dari pelarian, tapi buah dari penerimaan.
Mereka percaya bahwa ketenangan sejati datang ketika kita mampu membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak.
Stoisisme tidak menolak self-care, tapi mengajarkan keseimbangan. Mandi dengan garam aromatik boleh saja, tapi jangan lupa: ketenangan tidak datang dari air hangat, melainkan dari pikiran yang jernih.
Jadi, alih-alih berusaha “membeli” tenang, Stoic mengajak kita untuk melatih tenang — melalui kesadaran diri, pengendalian emosi, dan penerimaan terhadap realita yang tidak selalu ramah.
Baca Juga: Abadi Nan Jaya Tembus 10 Top Netflix Global, Ditonton 11 Juta Kali, Apa Menariknya Film Ini?
Realita: Dunia Tidak Akan Berhenti, Tapi Kita Bisa Melambat
Mari jujur: hidup modern sering kejam. Target kerja, ekspektasi sosial, dan tekanan finansial membuat banyak orang terus berlari tanpa arah.