TITIKTEMU.CO - Notifikasi tak berhenti berbunyi, media sosial terus menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, dan kepala kita tak henti membandingkan diri sendiri.
Selamat datang di era overthinking—di mana tenang jadi barang langka.
Namun, di tengah hiruk-pikuk digital ini, muncul kembali sebuah filosofi kuno yang terasa relevan: Stoic. Dulu, Stoicisme adalah ajaran para filsuf Yunani-Romawi seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus.
Sekarang, banyak anak muda modern mengadopsinya sebagai cara bertahan hidup di dunia yang serba cepat dan penuh tekanan.
Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Sidak SPBU Pertamina di Malang: Pastikan Kualitas BBM Sesuai Standar
Apa Itu Stoic dan Kenapa Penting untuk Generasi Sekarang?
Stoic bukan tentang jadi kaku tanpa emosi. Justru sebaliknya—ini soal mengenali emosi, tapi tidak dikuasai olehnya.
Orang Stoic belajar membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak.
Misalnya, kamu tidak bisa mengontrol opini orang lain di Twitter, tapi kamu bisa mengontrol bagaimana kamu meresponsnya.
Kamu tidak bisa menghentikan dunia untuk tetap sibuk, tapi kamu bisa memilih untuk tidak ikut tenggelam di dalamnya.
Baca Juga: Mental Health di Tempat Kerja: Menjaga Waras di Tengah Target dan Deadline yang Tak Kenal Ampun
Filosofi sederhana ini, kalau diterapkan, bisa jadi tameng kuat menghadapi stres dan kecemasan khas era digital.
Overthinking: Penyakit Modern yang Tak Disadari
Kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak kerja, tapi karena terlalu banyak mikir.