Tapi begitulah. Saat orang tak bisa memahami sumber rezekimu, mereka menciptakan narasi sendiri, dan biasanya, narasi mistis. Di desa, hal-hal seperti itu sangat mungkin terjadi.
Cerita lain juga datang dari pasangan yang sukses berjualan hijab online. Setelah usahanya maju, gosip pun datang. Ketika sang suami meninggal mendadak, warga menudingnya tumbal pesugihan.
Padahal mereka bekerja keras, belajar jualan digital, dan membuka lapangan kerja bagi tetangga. Tapi di mata sebagian orang, kesuksesan tanpa cara konvensional dianggap mencurigakan.
Baca Juga: Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Antara Peduli dan Iri
Masalah terbesar di desa bukan soal ekonomi, tapi soal cara pandang. Rasa iri dan keinginan tahu berlebihan sering dibungkus dalam kata peduli.
Di kota, orang mungkin cuek. Tapi di desa, semua orang ingin tahu, mulai dari pekerjaan, gaji, sampai urusan pribadi seperti kapan menikah, mengapa tidak punya anak padahal sudah lima tahun menikah, dan seterusnya.
Ketika seseorang membeli motor baru, pertanyaan seperti “Dapat dari mana uangnya?” langsung muncul. Kalau kamu jarang keluar rumah, dibilang sombong. Kalau sering nongol, dianggap pamer. Semua serba salah.
Dan sekali gosip beredar, orang akan terus mengingatmu dengan stigma itu, meski bertahun-tahun kemudian.
Baca Juga: Slow Living vs Hustle Culture: Hidup Bukan Lomba Lari, Bro!
Ramah Tapi Penuh Kecurigaan
Desa memang dikenal dengan keramahan warganya. Tapi keramahan itu bisa berubah jadi pisau bermata dua. Di balik senyum manis, ada tatapan penuh penilaian. Di balik sapaan hangat, terselip rasa iri atau curiga.
Tak heran, banyak anak muda yang sukses di kota memilih jarang pulang. Bukan karena lupa kampung halaman, tapi karena lelah menjawab pertanyaan dan komentar yang menyakitkan.
Di desa, kesuksesan seolah harus punya bentukrumah besar, sawah luas, mobil atau motor baru. Jika tidak, kesuksesan dianggap tidak nyata atau hasil dari sesuatu yang aneh.
Baca Juga: Slow Living itu Tidak Sama dengan Bemalas-malasan