Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 27 Juli 2026 | 19:24 WIB

Jakarta sendiri tetap merupakan mesin ekonomi raksasa. BPS mencatat ekonomi DKI Jakarta tumbuh 5,21 persen sepanjang 2025, dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp3.926 triliun.

Artinya, orang tidak meninggalkan Jakarta karena kota ini kehilangan daya tarik ekonominya. Justru sebaliknya: sebagian orang mulai merasa bahwa peluang ekonomi tidak harus selalu dibayar dengan seluruh kualitas hidup.

Kota Kedua Mulai Terlihat Lebih Menarik

Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang, hingga sejumlah kota berkembang mulai menawarkan kombinasi yang dulu sulit ditemukan: komunitas profesional, kafe dan ruang kerja, akses digital, fasilitas kesehatan, serta gaya hidup yang lebih santai.

Baca Juga: 12 Drakor Cinta Beda Zaman yang Bikin Susah Move On, dari Lovely Runner sampai Goblin

Bagi pekerja muda, kota bukan lagi sekadar tempat mencari pekerjaan. Kota adalah bagian dari “paket hidup” yang ingin mereka beli.

Bahkan, fenomena ini bukan berarti anak muda sedang menjauhi kehidupan urban. Mereka justru sedang memilih versi urban yang lebih cocok dengan ritme hidupnya.

Ada yang ingin tinggal dekat keluarga. Ada yang mengejar rumah lebih luas. Ada pula yang sekadar ingin selesai bekerja pukul lima tanpa merasa hidupnya baru dimulai lagi ketika sampai rumah.

Baca Juga: UKKJ Guru Madrasah 2026 Segera Digelar, Kemenag Siapkan 14.080 Formasi untuk Kenaikan Jenjang Jabatan

Jakarta Bukan Ditinggalkan, Hanya Tidak Lagi Wajib

Data BPS menunjukkan Jakarta kini memasuki fase ageing population, dengan proporsi penduduk lanjut usia mencapai 12,01 persen. Pada saat yang sama, migrasi keluar lebih besar daripada migrasi masuk.

Maka, cerita tentang anak muda yang pindah dari Jakarta sebenarnya bukan sekadar cerita tentang kemacetan.

Ini tentang perubahan definisi sukses.

Dulu, sukses identik dengan kantor bergengsi di pusat kota. Sekarang, sukses bisa berarti punya pekerjaan bagus, penghasilan layak, rumah yang nyaman, waktu untuk keluarga, dan energi yang tersisa setelah jam kerja.

Jakarta mungkin masih menjadi pusat peluang. Namun bagi generasi profesional urban hari ini, tinggal di Jakarta bukan lagi satu-satunya cara untuk memenangkan hidup.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X