TITIKTEMU.CO - Generasi Z tumbuh di era serba digital, di mana media sosial, tren, dan budaya instant gratification atau kepuasan instan mudah sekali dijangkau.
Fenomena seperti FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan tren sering mendorong keputusan finansial yang kurang bijak—belanja impulsif, ikut tren tanpa perencanaan, atau bahkan penggunaan kredit konsumtif.
Padahal, kemampuan literasi keuangan—yakni memahami cara kerja uang, menabung, membuat anggaran, dan mengambil keputusan finansial yang tepat—menjadi penting agar Gen Z tidak terjebak dalam pola hidup yang menguras uang tanpa tujuan jangka panjang.
Baca Juga: Omzet Triliunan Diselipkan ke Rekening Karyawan: PPATK Temukan Pola Baru di Kasus Pajak Tekstil
Apa Itu Literasi Keuangan dan Kenapa Penting?
Literasi keuangan adalah keterampilan yang membantu seseorang memahami cara menggunakan uang secara efektif dan terarah—mulai dari pengelolaan anggaran hingga strategi menabung dan investasi yang tepat.
Dengan pemahaman ini, seseorang mampu membedakan pengeluaran penting dan sekadar keinginan, serta mempersiapkan kondisi darurat finansial.
Survei national menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan di Indonesia masih perlu ditingkatkan, termasuk di kalangan Gen Z. Kurangnya literasi bisa membuat Gen Z mudah terjerat gaya hidup konsumtif atau terlena oleh tren yang mendorong pengeluaran tidak terencana.
Baca Juga: Resep Es Gabus 2026: Dari Viral Es Spons ke Jajanan Jadul yang Bisa Jadi Ladang Cuan
Tantangan Gen Z: Gaya Hidup dan FOMO
Gen Z sangat akrab dengan istilah seperti YOLO (You Only Live Once) dan FOMO, yang sering membuat mereka merasa “harus ikut tren” untuk tetap relevan dalam lingkaran sosial.
Sikap ini bisa memicu keputusan impulsif, seperti membeli barang viral atau ikut acara yang mahal hanya karena ingin terlihat up-to-date.
Hal ini terlihat juga dari studi yang menunjukkan hubungan erat antara literasi keuangan, gaya hidup, dan perilaku pengelolaan uang Gen Z.
Meskipun Gen Z sering memiliki akses ke layanan keuangan digital, keterampilan mengelola uangnya lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku hidup mereka sendiri—termasuk keputusan konsumsi yang dipicu oleh tren.
Artikel Terkait
Emas Ngegas Lagi! Harga Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Naik
Uang Negara Bocor Diam-Diam: BPK Ungkap Kerugian Raksasa di Kasus Tata Kelola Minyak Pertamina
Dari Tuduhan Es Spons ke Tiket Umrah: Rezeki Sudrajat Datang Setelah Viral dan Sabar
Resep Es Gabus 2026: Dari Viral Es Spons ke Jajanan Jadul yang Bisa Jadi Ladang Cuan
Dari Kampus Itera ke Panggung Dunia: Natasya Buktikan Riset Bisa Jadi Suara yang Didengar Global
Anti Gagal! Begini Cara Memenangkan War Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Agar Kebagian Kursi
Omzet Triliunan Diselipkan ke Rekening Karyawan: PPATK Temukan Pola Baru di Kasus Pajak Tekstil
Can This Love Be Translated? Tembus 118 Juta Jam Ditonton, Dunia Ikut Baper Bareng
Gundam Akhirnya Turun ke Dunia Nyata: Film Live Action Resmi Mendarat di Netflix!
Tak Perlu Travel, Ini Panduan Umrah Mandiri, Lengkap dengan Rincian Biaya