Proses produksi film ini bisa dibilang gila-gilaan.
Selama enam bulan, tim riset mempelajari cara tubuh manusia bereaksi terhadap luka, gigitan, dan pembusukan untuk menciptakan 200 karakter zombie dengan gaya gerak berbeda-beda.
Setiap zombie dibuat punya cerita visual sendiri, tergantung jenis infeksi yang dialami. Hasilnya? Penonton bisa benar-benar merasakan bahwa wabah ini “hidup”.
Sentuhan Lokal yang Menguatkan Cerita
Selain elemen horor, “Abadi Nan Jaya” juga sarat dengan unsur budaya Indonesia—mulai dari tradisi khitanan, musik dangdut, azan, hingga petasan yang digunakan sebagai simbol kehidupan desa.
Unsur-unsur ini tak hanya memperkaya suasana, tapi juga membuat film terasa sangat autentik dan dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Abadi Nan Jaya Tembus 10 Top Netflix Global, Ditonton 11 Juta Kali, Apa Menariknya Film Ini?
Kimo Stamboel: Konsisten Bawa Horor Lokal ke Level Dunia
Sebagai sutradara, Kimo Stamboel dikenal lewat karya seperti KKN di Desa Penari, Ratu Ilmu Hitam, dan Rumah Dara.
Dalam “Abadi Nan Jaya”, ia kembali membuktikan bahwa film horor Indonesia punya potensi global tanpa kehilangan akar budayanya.
Kimo bukan hanya membuat penonton takut, tapi juga mengajak mereka berpikir tentang keserakahan, waktu, dan batas moral manusia.
Film Zombie yang Bikin Bangga
“Abadi Nan Jaya” bukan cuma tontonan menyeramkan—ia adalah perayaan kreativitas lokal. Film ini berhasil menunjukkan bahwa kisah zombie tak harus datang dari Hollywood; kadang, ketakutan paling besar justru tumbuh dari tanah sendiri.
Dengan segala riset, simbolisme, dan sentuhan budaya yang dalam, film ini pantas disebut sebagai tonggak baru dalam sejarah horor Indonesia modern.***
Artikel Terkait
Harga Emas Turun, Niat Beli Ikut Luntur: Antara Logam Mulia dan Logika Hati-Hati
Saksi Kasus Kematian Prada Lucky, Prada Richard Ungkap Trauma dan Permintaan Dipindahkan dari Satuan
Dari Singkong Jadi Energi: Langkah Serius Indonesia Menuju Kemandirian Bioetanol
Whoosh, Utang, dan Bayangan KPK: Ketika Proyek Ambisi Jadi Ujian Transparansi
10 Barang Elektronik yang Bisa Digadaikan di Pegadaian Swasta
Jeritan dari Panggung Monas: Ketika Guru Madrasah Menuntut Keadilan yang Tak Kunjung Datang
Apa yang Sebenarnya Dimaksud Luhut Saat Sebut Whoosh Proyek Busuk?
695 Siswa Gunungkidul Keracunan Program Makan Bergizi Gratis: Ketika Niat Baik Tak Selalu Berujung Manis
Di Balik Laju Whoosh: Dugaan Permainan Licik, Utang Raksasa, dan Angka-angka yang Tak Masuk Akal
Coretax Rp1,3 Triliun: Drama Pajak Digital, Programmer ‘Lulusan SMA’, dan Tanda Tanya Besar di Balik Layar