Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menambahkan, pasca merger dan tuntasnya proses integrasi maka layanan keuangan syariah bagi masyarakat akan semakin beragam dan luas cakupannya. Tak hanya itu, peningkatan kualitas layanan dipastikan terjadi.
Kesempatan masyarakat untuk bertransaksi secara mudah, dan menjajaki kerja sama dengan mitra bisnis di luar negeri menggunakan layanan keuangan syariah, akan semakin terbuka. Produk dan jasa yang ditawarkan Bank Syariah Indonesia dipastikan menjawab seluruh kebutuhan nasabah dan masyarakat.
“Bank Syariah Indonesia akan memiliki layanan dan produk keuangan syariah yang bisa diakses serta memenuhi kebutuhan nasabah UMKM, korporasi, ritel, dan investor global. Kualitas layanan kami terus kami pacu sesuai standar internasional dengan rasa lokal. Kami semua di Bank Syariah Indonesia akan bekerja keras agar bisa segera beroperasi optimal memenuhi segala kebutuhan masyarakat. Insya Allah, persatuan ketiga bank ini akan membawa berkah, faedah, dan kemaslahatan bagi banyak orang,” ujar Firman.
Baca Juga: Jangan Baper! Ini 7 Film Romantis yang Cocok Ditonton Saat Valentine
Bank Syariah Indonesia akan melakukan kegiatan usaha di lebih dari 1.200 kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, serta BNI Syariah.
Berdasarkan performa keuangan per 30 Juni 2020, total aset Bank Hasil Penggabungan nantinya mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Jumlah tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.
Di segmen UKM dan mikro, Bank Hasil Penggabungan akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM melalui produk dan layanan keuangan Syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
Di segmen ritel, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki ragam solusi keuangan seperti terkait keperluan ibadah haji dan umrah, zakat sedekah wakaf dan infak (ZISWAF), produk layanan berbasis emas, pendidikan, kesehatan, remitansi internasional, dan layanan dan solusi keuangan lainnya yang berlandaskan prinsip Syariah yang didukung oleh kualitas digital banking dan layanan kelas dunia.
Di segmen korporasi dan wholesale, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan Syariah.
Selain itu, Bank Hasil Penggabungan juga dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang berskala besar dan sejalan dengan rencana Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Baca Juga: Telkomsel Tak Pernah Minta Password atau Kode Verifikasi kepada Pelanggan. Itu Penipuan!
Di samping itu, Bank Hasil Penggabungan akan menyasar investor global lewat produk-produk Syariah yang kompetitif dan inovatif. Bank Hasil Penggabungan akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS.
Komposisi pemegang saham pada Bank Hasil Penggabungan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) 25,0 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen. Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan. ***
Artikel Terkait
Anda Nasabah Bank BCA, Hati-Hati Dengan Modus Penipuan Ini
Bank Jateng Catat Laba Usaha Tumbuh 14,7% Jadi Rp. 1,77 Triliun
Bank Jateng Cilacap Serahkan Doorprize Kredit: Ada Laptop, TV LED Sampai Sepeda MTB
Info Lokasi Layanan Weekend Banking BCA Ada di Mana Saja!
Kebutuhan Bisnis Lebih Cocok Pakai Giro atau Tabungan Bank?
Simak Ini Perbedaan Tabungan dengan Deposito di Bank
Tabungan Bank yang Cocok Buat TKI, Coba Mandiri Tabungan TKI
Cara Membuka Tabungan Haji dan Umrah di Bank Umum Syariah