Artinya, dari hal sederhana itu, sebenarnya Agastya berhasil menangkap peluang dengan memenuhi kebutuhan pasar.
Keistimewaan kacang keplos khas Bali milik KWT Cahaya Suci terletak di pengolahannya. Camilan yang hadir dengan dua varian rasa, yaitu bumbu pedas manis dan original ini memiliki tekstur yang kriuk dan gurih.
Baca Juga: BRI Menjadi Salah Satu BUMN dengan Praktik ESG Terbaik Berkat Konsisten Dalam Pemberdayaan UMKM
"Kacang keplos ini adalah jenis kacang merah yang digoreng dengan minyak berkualitas. Kulit arinya diayak beberapa kali dan minyaknya dihilangkan di-spinner," ujar wanita berusia 53 tahun itu.
Agastya menambahkan, dalam sekali produksi sebanyak 25 kg dan pasti habis dalam waktu 3 hari. Biaya yang dikeluarkan untuk produksi sekitar Rp1,25 juta sudah termasuk listrik, bahan baku.
"Pendapatan yang diperolehnya sekitar Rp1,7 juta dan laba yang dihasilkan, digunakan untuk cicilan KUR tiap bulan," jelas Agastya.
KWT Cahaya Suci merupakan salah satu bagian dari Program Pemberdayaan BRI Klasterku Hidupku dan telah mendapatkan sederet pelatihan dan workshop dari BRI untuk mengembangkan keterampilan mereka, dalam pengolahan dan pemasaran produk.
Baca Juga: Ketahui 10 Kebiasaan Pagi yang Membuat Orang Sukses Semakin Sukses
"Kami dapat pendampingan dan pelatihan. Kami dapat ilmu mengenai packaging yang bagus seperti apa. Kami juga dikasih tahu tentang pembayaran digital melalui BRImo. Kami jadi lebih mudah dan transaksinya jadi aman. Kami juga dibantu juga untuk pemasaran dalam mencari konsumen, salah satunya ya melalui kegiatan bazar yang digelar BRI," kata Agastya.
Dia berharap, ke depannya, BRI bisa memberikan pelatihan lebih lanjut mengenai kemasan dan pemasaran agar KWT Cahaya Suci dapat tumbuh dan berkembang dalam semangat kerja sama dan inovasi.
Agastya juga berharap, agar para anggota KWT Cahaya Suci bisa berjalan beriringan menuju kesuksesan, demi meningkatkan kesejahteraan anggota.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa Klasterku Hidupku merupakan pemberdayaan kepada kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan usaha dalam satu wilayah.
Baca Juga: BRI Ajak Pembalap MotoGP Tanam Pohon Demi Keseimbangan Lingkungan Untuk Dorong Pariwisata Hijau
Sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan dalam peningkatan maupun pengembangan usaha para anggotanya.
Hingga akhir Juli 2024 tercatat BRI telah memiliki 31.488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku. BRI juga telah menyelenggarakan 2.184 pelatihan dalam program Klasterku Hidupku tersebut.
Artikel Terkait
Klaster Perajin Batu Paras Taro di Bali Semakin Berkembang Berkat Program Pemberdayaan BRI
Cerita Sukses Klaster Jeruk Sungai Penuh yang Makin Berkembang Berkat Pemberdayaan BRI
Kisah Klaster Usaha Telur Asin Abinisa, Omset Usaha Semakin Meningkat Berkat Pemberdayaan BRI
Pemberdayaan BRI Bikin Klaster Kelengkeng di Tuban Makin Bersinar
Selama 10 Tahun Jokowi, BRI Jadi BUMN dengan Setoran Dividen Terbesar ke Negara
BRI Ajak Pembalap MotoGP Tanam Pohon Demi Keseimbangan Lingkungan Untuk Dorong Pariwisata Hijau