T ITKTEMU.CO, Para perajin batik di Jepara tidak takut, jika desain karya mereka diplagiat oleh pelaku usaha yang lain.
“Pelaku plagiat dan desainer itu punya kelas berbeda. Bagaimanapun, kepala akan selalu di depan, ekor selalu di belakang. Kalau kita mau terus kreatif dan inovatif, insyaallah akan selalu dituntun oleh Allah,” kata Ketua Paguyuban Biyung Pralodo Suyanti Jatmiko.
Para perajin batik Jepara saat ini telah berhenti mendaftarkan hak paten atas desain-desainnya. Pasalnya, saat motif atau warna desain itu sedikit diubah, perubahan desain itu sudah bisa didaftarkan hak patennya oleh orang lain.
“Saya punya 15 hak paten. Masing-masing perajin anggota Biyung Pralodo pun punya dalam jumlah berbeda. Tapi akhirnya, kami memilih berhenti mendaftar,” tambahnya.
Baca Juga: Terobosan Kalau Pemasaran Batik Jumputan di Yogya Merambah E-Commerce
Sementara, praktisi fashion dan kecantikan Siti Aqidatun mengatakan, warga Jepara bisa mendukung perkembangan batik Jepara dengan mengenakan produk karya perajin Jepara.
“Mempertahankan kewajiban pakaian batik Jepara oleh ASN (aparatur sipil negara) pada hari tertentu juga akan mengangkat batik Jepara,” jelas perempuan yang akrab disapa Aida.
Pada kesempatan itu, Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta mempersilakan para perajin batik, untuk memanfaatkan Ruang Peringgitan di kompleks Pendapa Kabupaten Jepara, sebagai tempat memamerkan produk.
“Silakan ditata yang baik, diberi nomor kontak pemesanan. Tanggal 28 Oktober 2024 mendatang, kita tuan rumah peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat Jawa Tengah. Tamu-tamu daerah harus melihat produk kita,” kata dia.
Artikel Terkait
Ada Lomba Desain Batik Sawit, Pacu Kreatifitas Desainer dan Pembatik Yogyakarta
Brebes Daftarkan Garam Rebus dan Batik Salem sebagai Indikasi Geografis, Apa Itu?
Begini Ini Kalau Mitra Friends of Yogyakarta Dari Negara Lain Kepincut Batik
Wow, Ada Difabel Zone, Pengrajin Batik di Bantul Yang Tembus Pasar Internasional
Terobosan Kalau Pemasaran Batik Jumputan di Yogya Merambah E-Commerce