TITIKTEMU.CO NTT - Indonesia bakal membangun Taman Jurrasic di Taman Nasional Komodo? Informasi itu sempat membuat heboh publik beberapa waktu yang lalu.
Selain menjadi perbincangan di kalangan penggiat lingkungan dalam negeri, informasi tersebut sempat menjadi konsumsi hingga diluar negeri. Kekhawatiran tersebut bisa difahami, karena informasi itu diasosiasikan dengan film Jurrasic Park yang sempat menjadi tontonan dalam deretan box office dunia.
Baca Juga: Penamaan Ibu Kota Negara Baru, Sejarawan UGM: Nama “Nusantara” Lebih Merujuk pada Wilayah Luar Jawa
Baca Juga: Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Unesa, IG dear_unesacatcallers Naikkan Tagar #pecatdosencabul
Memang, Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu telah mencetuskan program wisata premium di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kantor Staf Presiden (KSP) pun sudah mengirim tim untuk melakukan verifikasi lapangan terkait kekhawatiran masyarakat tersebut. Salah satu lokasi yang dikunjungi, yakni Pulau Rinca, tempat dibangunnya “Taman Jurrasic”.
Baca Juga: UGM Mau Cari Rektor Baru, Berminat? Simak Tahapan Seleksinya
Pulau Rinca terletak di sebelah barat Flores dengan dipisahkan selat Molo. Memiliki luas 20.000 hektare, Pulau yang menjadi habitat alami Komodo ini merupakan pulau terbesar kedua di Taman Nasional Komodo, NTT. Lebih dari separuh luas Pulau Rinca ditutupi sabana dengan sebaran hutan gugur terbuka dan mangrove.
Melihat penataan sarana di Pulau Rinca ternyata jauh dari kesan mewah. Tim KSP memantau, proses pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca sudah mendekati tahap akhir. Dari luas keseluruhan Pulau Rinca 20.000 hektare, pembangunan penataan sarana hanya berada di area 1,3 hektare. Itupun berada di pinggir pulau dengan jarak 500 meter dari dermaga Loh Buaya.
Dari dermaga Loh Buaya, akan langsung melewati elevated track setinggi rata-rata tiga meter dari tanah dengan pepohonan liar di sekitarnya. Tiga bangunan dengan design tradisional pun ditempatkan layaknya rumah panggung.
Baca Juga: Kuliner Khas Gunungkidul: Dari Thiwul, Gathot sampai Belalang Goreng…
Selama berada di lokasi, belasan komodo berjemur santai di tanah. Satwa purba yang sudah ada sejak 3,5 juta tahun lalu itu tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Hanya ada satu bagunan menjejak tanah yang digagas untuk museum, toilet, dan pengamatan langsung komodo dari jarak lebih dekat.
Yang menarik dalam pembangunan sarana ini, terlihat sangat memperhatikan kondisi layaknya habitat asli. Sebelumnya, pengunjung di Pulau Rinca harus melewati jalan setapak di tanah. Sejumlah bangunan yang dulu dipakai untuk pos penjagaan dan tempat pengamatan bagi para ilmuwan, kini sudah dibongkar.
Sementara sarana yang dibangun saat ini, memberi ruang gerak lebih bebas pada komodo. Jalan setapak yang diubah menjadi elevated track, bakal mengurangi persimpangan langsung antara komodo dan manusia. Bagunan bagi staf taman nasional dan peneliti, sekarang dibuat melayang.
Artikel Terkait
Ini Empat Warisan Alam Indonesia yang Diakui UNESCO, Salah Satunya Taman Nasional Komodo
Bertemu Wamenlu Republik Ceko, Wagub Cok Ace: Bali Siap Terima Wisatawan Mancanegara
Presiden Jokowi: Bali Jadi Destinasi Wisata Kesehatan
Omicron Masuk Surabaya, Dua Pasien Terkonfirmasi Positif Setelah Liburan dari Bali
Jajal Bypass Mandalika, Jaket Presiden Jokowi Bikin Gagal Fokus Netizen
Svarga Bumi Destinasi Wisata Unggulan di Magelang
Jelang Tahun Baru Imlek, Kelenteng Sam Poo Kong Jadi Pilihan Tepat Liburan Keluarga
Sambut MotoGP 2022 di Mandalika, Lombok, Panitia Siapkan Hotel Terapung di Seputar Nusa Tenggara Barat
Dolan ke Purworejo? Sempatkan Berkunjung ke 7 Obyek Wisata ini
Mely, Bayi Orangutan ke-100 Lahir di Suaka Margasatwa Lamandau