Menjaga Habitat Alami Komodo di Pulau Rinca NTT: Bakal Dibangun Taman Jurassic?

photo author
Agus Hermanto, TitikTemu.co
- Jumat, 21 Januari 2022 | 05:13 WIB
Elevated track setinggi 3 meter dari permukaan tanah di Pulau Rinca Provinsi NTT, jalur untuk wisatawan melihat langsung satwa komodo dengan jarak pandang lebih luas, serta membuat pergerakan komodo lebih bebas dan tidak terganggu manusia. (pic. ksp)
Elevated track setinggi 3 meter dari permukaan tanah di Pulau Rinca Provinsi NTT, jalur untuk wisatawan melihat langsung satwa komodo dengan jarak pandang lebih luas, serta membuat pergerakan komodo lebih bebas dan tidak terganggu manusia. (pic. ksp)

TITIKTEMU.CO NTT - Indonesia bakal membangun Taman Jurrasic di Taman Nasional Komodo? Informasi itu sempat membuat heboh publik beberapa waktu yang lalu.

Selain menjadi perbincangan di kalangan penggiat lingkungan dalam negeri, informasi tersebut sempat menjadi konsumsi hingga diluar negeri. Kekhawatiran tersebut bisa difahami, karena informasi itu diasosiasikan dengan film Jurrasic Park yang sempat menjadi tontonan dalam deretan box office dunia.

Baca Juga: Penamaan Ibu Kota Negara Baru, Sejarawan UGM: Nama “Nusantara” Lebih Merujuk pada Wilayah Luar Jawa

Baca Juga: Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Unesa, IG dear_unesacatcallers Naikkan Tagar #pecatdosencabul

Memang, Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu telah mencetuskan program wisata premium di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kantor Staf Presiden (KSP) pun sudah mengirim tim untuk melakukan verifikasi lapangan terkait kekhawatiran masyarakat tersebut. Salah satu lokasi yang dikunjungi, yakni Pulau Rinca, tempat dibangunnya “Taman Jurrasic”.

Baca Juga: UGM Mau Cari Rektor Baru, Berminat? Simak Tahapan Seleksinya

Pulau Rinca terletak di sebelah barat Flores dengan dipisahkan selat Molo. Memiliki luas 20.000 hektare, Pulau yang menjadi habitat alami Komodo ini merupakan pulau terbesar kedua di Taman Nasional Komodo, NTT. Lebih dari separuh luas Pulau Rinca ditutupi sabana dengan sebaran hutan gugur terbuka dan mangrove.

Melihat penataan sarana di Pulau Rinca ternyata jauh dari kesan mewah. Tim KSP memantau, proses pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca sudah mendekati tahap akhir. Dari luas keseluruhan Pulau Rinca 20.000 hektare, pembangunan penataan sarana hanya berada di area 1,3 hektare. Itupun berada di pinggir pulau dengan jarak 500 meter dari dermaga Loh Buaya.

Dari dermaga Loh Buaya, akan langsung melewati elevated track setinggi rata-rata tiga meter dari tanah dengan pepohonan liar di sekitarnya. Tiga bangunan dengan design tradisional pun ditempatkan layaknya rumah panggung.

Baca Juga: Kuliner Khas Gunungkidul: Dari Thiwul, Gathot sampai Belalang Goreng…

Selama berada di lokasi, belasan komodo berjemur santai di tanah. Satwa purba yang sudah ada sejak 3,5 juta tahun lalu itu tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Hanya ada satu bagunan menjejak tanah yang digagas untuk museum, toilet, dan pengamatan langsung komodo dari jarak lebih dekat.

Yang menarik dalam pembangunan sarana ini, terlihat sangat memperhatikan kondisi layaknya habitat asli. Sebelumnya, pengunjung di Pulau Rinca harus melewati jalan setapak di tanah. Sejumlah bangunan yang dulu dipakai untuk pos penjagaan dan tempat pengamatan bagi para ilmuwan, kini sudah dibongkar.

Sementara sarana yang dibangun saat ini, memberi ruang gerak lebih bebas pada komodo. Jalan setapak yang diubah menjadi elevated track, bakal mengurangi persimpangan langsung antara komodo dan manusia. Bagunan bagi staf taman nasional dan peneliti, sekarang dibuat melayang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agus Hermanto

Sumber: KSP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X