Keunikan bentuk batu ini membuatnya sering menjadi spot foto favorit wisatawan. Namun daya tariknya tidak berhenti sampai di situ.
Konon, Puncak Widosari dulu pernah menjadi tempat bertapa Pangeran Diponegoro. Kisah historis ini membuatnya terasa semakin menarik untuk dieksplorasi.
Untuk masuk ke area puncak, wisatawan hanya perlu membayar tiket sebesar Rp 6.000 per orang dengan biaya parkir motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000.
Destinasi ini buka setiap hari dari pukul 05.00–18.00 WIB, sehingga cocok didatangi untuk menikmati sunrise maupun sunset.
Baca Juga: Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Puncak Proman: Spot Sunset Favorit Wisatawan
Tidak jauh dari Puncak Widosari, ada pula Puncak Proman, destinasi yang tak kalah populer. Lokasinya berada di atas Bukit Proman dan bisa diakses dengan kendaraan atau trekking bagi yang suka tantangan.
Puncak Proman terkenal sebagai salah satu spot terbaik menikmati matahari terbenam. Cahaya senja yang menyinari hamparan perbukitan Menoreh menciptakan suasana dramatis dan menenangkan.
Tempat ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati waktu tenang sambil berburu foto aesthetic.
Harga Tiket dan Fasilitas Desa Wisata
Untuk pengalaman wisata yang lebih lengkap, pengunjung dapat membeli tiket paket desa wisata seharga Rp 35.000 untuk menikmati berbagai destinasi dalam kawasan Widosari.
Selain berwisata di puncak-puncak ikoniknya, Widosari juga menawarkan banyak aktivitas seru seperti outbound, camping, hingga berburu sunrise di Bukit Mata Elang.
Bagi yang tertarik dengan kegiatan edukatif, wisatawan bisa belajar beternak dan mengolah hasil pertanian di Rajendra Farm atau langsung bersama warga sekitar.
Ada pula perkebunan teh seluas satu hektare di Padukuhan Tritis yang menawarkan pengalaman refreshing sekaligus menenangkan pikiran.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Ini Alasan Purwokerto Cocok Jadi Kota Impian untuk Slow Living dan Menikmati Pensiun
Mimpi Slow Living: Benarkah Hidup di Desa Bakal Selalu Nyaman?
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim