TITIKTEMU.CO – Kekalahan Argentina dari Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026 menghadirkan kisah yang mengingatkan publik pada perjalanan Diego Maradona di Piala Dunia 1990. Meski berasal dari era yang berbeda, Lionel Messi dan Maradona memiliki sejumlah kesamaan setelah sama-sama gagal mempertahankan gelar juara dunia yang sebelumnya mereka raih.
Maradona mengantar Argentina menjadi kampiun pada Piala Dunia 1986, sedangkan Messi membawa La Albiceleste meraih trofi pada edisi 2022. Namun, saat berstatus juara bertahan, keduanya harus menerima kenyataan pahit setelah takluk di partai final.
Sama-sama Menjadi Tumpuan Argentina hingga Final
Baik Diego Maradona maupun Lionel Messi memainkan peran sentral sepanjang turnamen.
Pada Piala Dunia 1990, Maradona tetap tampil memimpin Argentina meski mengalami cedera engkel yang cukup serius. Demi membela negaranya, ia bahkan dikabarkan harus menjalani suntikan pereda nyeri agar dapat bermain penuh selama kompetisi.
Sementara itu, Messi menjadi sosok paling berpengaruh dalam perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026. Kapten La Albiceleste tampil produktif dengan menyumbang delapan gol dari total 19 gol timnya serta menjadi motor serangan melalui distribusi bola dan kreativitasnya.
Meski demikian, dominasi Spanyol di partai final membuat strategi Argentina gagal berkembang sehingga impian mempertahankan gelar harus kandas.
Perbedaan Taktik Maradona dan Messi
Walaupun memiliki akhir yang serupa, perjalanan Maradona dan Messi dibangun dengan pendekatan taktik yang berbeda.
Pada 1990, Argentina mengandalkan permainan bertahan yang disiplin dengan formasi 3-5-2. Maradona diberi kebebasan sebagai pengatur serangan yang menjadi sumber kreativitas utama saat melakukan serangan balik cepat.
Sebaliknya, pelatih Lionel Scaloni menerapkan sistem permainan yang lebih fleksibel pada Piala Dunia 2026. Argentina membangun serangan melalui penguasaan bola dan pergerakan kolektif untuk membuka ruang bagi Messi.
Saat kehilangan bola, mayoritas pemain langsung turun membantu pertahanan sehingga Messi dapat menghemat tenaga dan tetap menjadi pusat kreativitas ketika tim kembali menyerang.