Ahmad Yani dianugerahi sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya yang Letnan Jenderal dinaikkan menjadi Jenderal.
Letjen TNI Suprapto
Malam tanggal 1 Oktober 1965 itu Letjen Suprapto tidak bisa tidur karena sakit gigi. Menjelang Subuh, rumahnya didatangi Pasukan Tjakrabirawa yang memintanya menghadap Presiden Soekarno.
Di bawah todongan senjata Sang Jenderal digelandang masuk truk kemudian dibawa ke Lubang Buaya. Di sebuah rumah di kawasan itu ia ditembak mati.
Jasadnya ditemukan di sebuah sumur tua bersama beberapa jenderal lainnya. Suprapto adalah ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman pada 1946.
Mayjen TNI MT Haryono
Dalam buku Julius Pour, “G30S Fakta atau Rekayasa”, Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2013, hlm.2-6), Serka Boengkoes mendapat tugas dari Tjakrabirawa untuk memimpin penculikan MT Haryono. Nama lengkapnya Mas Tirtodarmo Haryono.
Pukul 04.30 pasukan Tjarabirawa mengedor pintu rumah MT Haryono. Sang Jenderal tahu sesuatu akan menimpa dirinya. Dia menyuruh anak dan istri pergi di halaman belakang.
Pintu diketuk. Tapi dari dalam rumah M T Haryono menjawab, “Kalau mau ketemu besok pagi saja di kantor jam 08.00.”
Pintu didobrak, suasana gelap karena semua lampu dimatikan. Seketika sekelebat bayangan bergerak, dan Sersan Boengkoes langsung memberondong tembakan.
Sang Jenderal terkapar dengan bersimbah darah, meninggal di tempat. Jasadnya dimasukkan truk dan dibawa ke Lubang Buaya.
Letjen TNI Siswondo Parman
Soe Hok Gie dalam buku ”Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” menulis, Siswondo Parman atau S Parman adalah tentara intelijen yang brilian.
Pangkat terakhirnya Mayor Jenderal, sebelum naik menjadi Letnan Jenderal karena Anumerta. Dia mengenyam pendidikan pendidikan di Koninklijke Militaire Academie di Belanda.
Kakaknya, Sakirman, adalah anggota Polibiro PKI yang berjuang meyakinkan Presiden Sukarno agar segera membentuk Angkatan Kelima.