TITIKTEMU.CO - Yohanes Prasetyo saksi mata tragedi Kanjuruhan menceritakan kisahnya. Ia sempat turun ke stadion dan memohon ke Polisi agar berhenti menembakkan gas air mata. Berikut penjelasan lebih lanjut seperti yang dikutip titiktemu.co dari YouTube Mata Najwa.
“Saya sebagai Aremania, waktu saya di tribun seperti ini,” ucapnya. Belum sempat melanjutkan kisahnya, ia sempat terisak. “...tim kebanggaan saya kalah.” lanjutnya.
Baca Juga: Kapolri umumkan 6 tersangka Tragedi Kanjuruhan. Di antaranya Dirut PT LIB dan Ketua Panpel
Yohanes merupakan salah satu Aremania yang menjadi saksi mata tragedi kelam tersebut. Ia yang tak berniat turun ke lapangan pun akhirnya melakukannya demi orang lain yang berteriak meminta tolong.
“Saya Cuma mendengar saudara-sadara saya Aremania yang minta tolong. Anak kecil, Pak. Anak kecil minta tolong. Suara ibu-ibu itu minta tolong. Di situ yang membuat saya inisiatif mau turun ke lapangan Cuma memohon sama aparat kepolisian tidak meneruskan tembakan itu.” kenangnya.
Ia berencana bekerja setelah menonton Arema di Stadion Kanjuruhan. Namun karena peristiwa rusuh tersebut, ia menunggu 90 menit. Yohanes menunggu pintu keluar sepi. Saat menunggu, ia melihat ada keributan dan gas air mata yang ditembakkan ke tribun.
Baca Juga: Fans BTS, ARMY INDONESIA Galang Dana Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan. Jumlah Segini...
Yohanes mengatakan, “Saya sebenarnya enggak ada inisiatif mau turun ke lapangan. Saya ini mau pulang. Mau kerja setelah pulang dari lihat Arema. Itu saya sempet memang 90 menit saya tidak langsung pulang itu saya menunggu di pintu keluar agak sepi dikit. Sambil menunggu ternyata ada keributan itu. Nah, keributan ada tembakan gas air mata ke tribun. Kalau gak salah tribun 6 kalau enggak tribun 7.”
Yohanes pun berinisiatif memohon kepada Polisi agar tidak menembakkan gas air mata. “Saya turun, coba saya ngomong baik-baik sama pak polisi. Pak Polisi tolong jangan tembakkan gas air mata ke tribun, di situ banyak anak kecil. Awal, pak polisi bilang ‘oh iya, bro. Kandan-kandanano konco-koncomu, bilang teman-temanmu’ Iya, Pak. Iya.” jelasnya.
Ia mengaku sempat diserang oleh Polisi. Yohanes tidak bisa mengenali siapa polisi yang menyerangnya. “Waktu satu oknum itu berteriak sama saya, mulai membentak-bentak. Itu, Pak. Mulai ada serangan ke saya. Awal serangan itu dari belakang mengarah ke kepala saya. Kepala sini. Itu serangan beberapa kali, Pak. Saya enggak melihat siapa yang nyerang. Saya enggak melihat orangnya siapa. Saya enggak melihat identitasnya. Karena mau melihat gimana, Pak. Saya lihat orangnya gini diserang dari kanan. Mau lihat ke kanan di serang dari kiri”jelasnya.
Yohanes pun menyayangkan peristiwa tersebut. “Gimana pak itu? Kita sama-sama satu Aremania, satu jiwa, Pak. Dia merasakan sakit, saya juga merasakan sakit.” kesahnya.***