nasional

Kompolnas: Tidak ada perintah Kapolres Malang untuk gunakan gas air mata

Selasa, 4 Oktober 2022 | 19:37 WIB
Gas air mata digunakan aparat saat terjadi Tragedi Kanjuruhan (pic/twitter)

"Dari 56 korban, Alhamdulillah 26 orang sudah bisa pulang, 7 orang masih ada di ICU.
Semoga kami punya kekuatan yang lebih bagus lagi untuk menangani para korban," katanya.

Baca Juga: Pengaduan Meningkat, Dewan Pers: Media Harus Menjaga Kehidupan Pers yang Sehat, Tingkatkan Profesionalisme

Sementara itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap sejumlah temuan hasil pengawasannya terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan. Salah satunya terkait instruksi penembakan gas air mata yang diduga memicu kepanikan suporter.

Komisioner Kompolnas, Albertus Wahyurudhanto menjelaskan selama dua hari ini pengawasan pihaknya melakukan asesmen kepada beberapa pihak. Di antaranya anggota Polres Malang, Bupati Malang, Aremania, dan korban yang mengalami luka-luka.

"Salah satu hasilnya, belum ditemukan adanya instruksi resmi dari Kapolres selaku penanggung jawab pengamanan dalam pertandingan tersebut," ungkap Wahyu dalam konferensi pers di Mapolres Malang, Selasa (4/10/2022).

Baca Juga: Matchday 3 LIGA CHAMPIONS: Analisa lengkap semua laga, termasuk big match Inter Vs Barcelona

"Tidak ada perintah Kapolres Malang untuk penguraian massa jika terjadi kerusuhan dengan menggunakan gas air mata. Ini sudah disampaikan apel lima jam sebelumnya saat apel. Dari internal kepolisian sudah prosedural,” jelasnya.

Wahyu mengatakan, setidaknya ada 2.000 personel aparat keamanan yang disiagakan dalam pengamanan. Namun, hanya 600 orang yang merupakan personel Polres Malang.

"Jadi 1.400 adalah bantuan bantuan Polres lain, Brimob, dan TNI. Kami masih selidiki dan nanti kirim rekomendasi ke ketua dan presiden terkait beberapa hal yang menjadi pelanggaran pengamanan," tuturnya.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan di mata suporter: Dokter tim ungkap penyebab kematian suporter. Ada yang diduga diculik..

Selain itu, Wahyu juga menduga ada kelebihan kapasitas yang ditengarai dari banyaknya orang yang belum masuk namun sudah memiliki tiket di tangan. "Sedangkan dalam stadion penuh, ini masih kita selidiki," ucapnya.***

Halaman:

Tags

Terkini